Poster TANGGA karya-sutradara Yusril Kathiel

Minggu, 27 Oktober 2013


TANGGA karya-sutradara Yusril Kathiel, produksi komunitas seni HITAM-PUTIH Padangpanjang Sumatera Barat dalam iven Indonesia Performing Arts Market (IPAM) tanggal 15 November 2013 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pukul 11.00 WIB. Karya ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Rumah Budaya Fadli Zon, PEM-DA Padangpanjang, PEM-PROV Sumatera Barat, ISI Padangpanjang dan Man Foto Padangpanjang.

Thanks All
Salam Budaya, Salam Kreativitas

Silahkan lihat IPAM 2013 Schedule (13-16 November 2013) di website:
http://www.ipam-indonesia.org/programme-schedule.php


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Pementasan TANGGA karya-sutradara Yusril Kathiel





SAKSIKAN!
Teater dengan judul 'TANGGA' sutradara Yusril, produksi komunitas seni HITAM-PUTIH Padangpanjang-Sumatera Barat sebagai salah satu peserta pertunjukan dalam Indonesia Performing Arts Market (IPAM) tanggal 15 November 2013 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pukul 11.00 WIB.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

FESTIVAL MONOLOG KENTHOET ROEJITO

Minggu, 03 Februari 2013


Komunitas Tanggul Budaya (KTB) merupakan sebuah komunitas yang bersusah sungguh menahan arus deras kebudayaan dengan metode, cara dan kerangka berpikir ala (KTB) sendiri. Berbagai persoalan kebudayaan menjadi bahan pemikiran dan obrolan yang coba kami angkat ke dalam diskusi-diskusi di malammalam sunyi kami.
Sebuah kata “monolog” coba kami bidik dalam nada dasar diskusi di suatu malam. Berbagai pertanyaan muncul, antara lain: kenapa tidak muncul actor maupun aktris muda yang mempunyai kapasitas aktor/aktris menasional di negeri ini? Siapakah aktor/aktris itu? Apakah perlu Komunitas Tanggul Budaya (KTB) menjadi wadah memunculkan aktor/aktris itu? Apakah perlu (KTB) menjadi jembatan ajang silaturahmi antarteater se-Nusantara? Berbagai hal yang bermacam ragam muncul dalam diskusi malam itu, persoalan yang barangkali menjadi pikiran dan persoalan dari kantong-kantong kesenian Anda pula?
 Kenapa harus monolog? Yha, persoalan itu kami jawab secara singkat seperti ini, kami beranggapan bahwa monolog menjadi pilihan paling efektif dari laku peristiwa teatrikal, baik secara kuantitas maupun kekuatan aktor/aktris dalam pertunjukan pementasannya. Dari berbagai persoalan itulah, kami mencoba memberi ruang dan wadah silaturahmi bagi para praktisi monolog maupun kelompok teater se-Nusantara untuk mementaskan naskah-naskah lakon monolognya di tempat kami. Dan menyambungkan berbagai simpul jejaring komunitas teater se- Nusantara dan menjawab berbagai pertanyaan tentang kegelisahan even yang tidak hanya sebagai ajang proyek tetapi menjadi persinggungan ide lintas generasi.
Kemunculan niatan ini akan membuat ruang pertemuan antarkelompok teater di tiap-tiap daerah. Akhirnya ketika konsep ini kami tawarkan kepada para seniman teater, Butet Kertarajasa menyambut baik, sekaligus memberikan subsidi bagi terlaksananya even ini. Beberapa seniman yang akan terlibat dengan peristiwa monolog ini, antara lain sebagai berikut.
  • Ki Slamet Gundono (Dalang wayang suket dari Surakarta) sebagai Juri.
  • Wahyu Cunong (Kelompok tari Sahita dari Surakarta) sebagai Juri.
  • Yusril Katil (Teater Hitam Putih, Padang Panjang) sebagai Juri.
  • Yanusa (Teater Tetas, Jakarta) sebagai komentator.
  • Shinta Febriany (Teater KALA, Makasar) sebagai komentator.
  • Dody Yan Masfa (Teater Tobong, Surabaya) sebagai komentator.
  • Abuy Asmarandana (Yogyakarta) sebagai komentator.
  • Irwan Jamal (Teater Pictorial, Bandung) sebagai komentator dan penutup acara
  • Toni Broer (Bandung) sebagai pemberi workshop.
  • Helmi Prasetyo (Teater Ruang Surakarta) pemberi workshop.
  • Joko Bibit Santosa (Teater Ruang, Surakarta) tokoh di balik layar
  • Butet Kertarajasa (Seniman, Yogyakarta) sebagai pemberi infak budaya dan inspektur Upacara Bendera ala teater dalam pada pembukaan workshop Fesmon Kenthoet Roejito.
  • Seniman-seniman teater muda se-Nusantara.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Menjemput Impian bagi Sang Sutradara



Selama tiga hari berturut-turut, pada tanggal 3-5 Agustus 2012 lalu, drama musikal Menjemput Impian sukses dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mengusung konsep perpaduan seni peran, seni tari, dan stop motion, drama yang mengisahkan asimilasi budaya Tionghoa dan Indonesia ini mendapatkan respon positif dari masyarakat. Ribuan tiket terjual habis seiring dengan wajah-wajah penonton yang puas terhibur seusai menyaksikan pementasan.

Adalah Yusril, S.S, M.Sn, seorang seniman dari Tanah Minang yang merupakan sutradara dari drama musikal tersebut. Keterlibatannya dalam Menjemput Impian berawal dari pertemuannya dengan Silvia Ong, seorang pelatih tari lulusan Program Master Penciptaan Seni Tari Institut Seni Surakarta, pada sebuah festival seni di Bali. Silvia Ong yang juga bertindak sebagai koreografer Menjemput Impian, saat itu melempar wacana mengenai keprihatinannya tentang akar budaya Tionghoa yang mulai terlupakan oleh generasi muda. Ternyata hal tersebut menarik minat Yusril.

“Saya sudah lama tertarik dengan kesenian Cina. Dan ceritanya menarik sekali. Bagi saya naskah ceritanya mirip dengan background saya, Minangkabau, dimana masyarakatnya merantau dan berjuang untuk meraih kesuksesan di tanah rantau,” ungkap Yusril.

Menjemput Impian adalah pementasan drama bergaya realis pertama Yusril. Sebelumnya, karya-karya Yusril bersifat eksperimental seperti Tangga (2008), Aksioma (2005), dan Indonesia Darahku Tumpah (2004). Mengenai hal tersebut, Yusril berujar, “Saya penasaran dengan pertunjukan musikal yang berpihak pada penonton, setelah karya-karya saya sebelumnya bisa dikatakan merupakan pertunjukan yang tidak berpihak pada penonton.”

Yusril yang berdomisili di Sumatera Barat dan seorang Pembantu Dekan 1 jurusan Teater Institut Seni Padangpanjang ini tidak berkeberatan bolak-balik ke Jakarta selama mempersiapkan pertunjukan Menjemput Impian. Baginya, kesuksesan drama realis musikal pertamanya ini merupakan salah satu pencapaian pribadi yang ingin diraihnya.

“Saya ingin tahu mengapa drama musikal semacam ini seringkali sukses di kota besar. Saya merasa tertantang. Melalui Menjemput Impian, kesimpulan saya adalah ternyata masyarakat kota besar sebenarnya butuh hiburan alternatif yang memang menghibur, setelah kesehariannya hanya dihibur dengan TV, dan lain-lain,” jelas Yusril.

Drama musikal Menjemput Impian yang berdurasi 2,5 jam ini dimainkan oleh para penari yang belum berpengalaman samasekali dalam dunia teater. Sejak di awal persiapan, hal tersebut bukan menjadi masalah bagi Yusril. “Semua orang bisa bermain drama realis. Saya percaya itu. Tidak ada kendala berarti mengenai kemampuan seni peran mereka. Saya malah merasa tertantang dan senang, bahwa ada orang-orang yang tidak hidup di dunia kesenian, namun tertarik dan berani untuk berkesenian,” tutup pria gondrong yang ramah tersebut. (Rike)

Sumber Internet: http://tourismnews.co.id/category/art-culture/menjemput-impian-bagi-sang-sutradara


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Foklore, Isu Korupsi Dan Penonton Kelas Menengah

Ekspresi Foklore selalu mengikuti arus zaman. “Indonesia Kita” menggubah legenda Malin Kundang asal Minangkabau menjadi Maling Kondangsetia pada Ibu tapi memanipulasi rakyat. Persis seperti pertunjukan Indonesia Kita dalam tema dua tahun terakhir.

Pertunjukan Indonesia Kita kali ini lebih terasa “lain” setelah merunut program Indonesia Kita yang telah memasuki penyelenggaraan tahun kedua. Isu korupsi selalu menjadi tema besar, dalam setiap penyelenggaraan pertunjukan yang didapuk Trio kakak adik: Butet Kartaredjasa, Agus Noor dan Djaduk Ferianto. Sejauh ini, selain Teater Koma yang juga mempunyai kekerabatan yang lekat dalam komunal kekeluargaan untuk memanajemen pertunjukan dan cenderung sukses dengan tolak ukur riuhnya penonton dan respon sponsor yang besar.
Masyarakat kelas menengah penonton Jakarta–dilihat dari tingkat profesi, pendidikan dan menyukai pertunjukan Indonesia karena kemasan pertunjukan ini memenuhi manajemen yang profesional dengan elemen menyajikan: 

Pertama, penampil yang notabene selebritis untuk menarik massa penonton, dikombain dengan pekerja teater idealis yang cukup mengetahui “kemapanan estetika panggung”. Antara rasa entertain dan pakem-pakem panggung cukup melebur.

Kedua: Isu kekinian yang sedang up-to-date, terutama menyoal political nationality yang sedang menjadi obrolan hangat dan menjadi headline di media. Selain itu, di Jakarta, beberapa seniman dan acara, menjadi besar karena “penggorengan media”. Ada yang memang layak karena menampilkan gagasan baru dan menarik.

Ketiga: Indonesia Kita perlu diakui memiliki tim produksi yang mampu menarik sponsor besar. Bersedia untuk membiayai, baik dari perusahaan swasta maupun birokrasi pemerintah.

Keempat, Indonesia kita cukup mampu mengkombain tradisi-foklore, legenda,mitos dan tokoh fiksi yang dikenal pada sebagian besar masyarakat seperti Kabayan dikemas dengan bentuk modern. Baik yang berbentuk broadway pada Putri Embun dan Pangeran Bintang dari Kelompok Teater Garasi, maupun pertunjukan yang baru-baru saja dipertunjukan “Maling Kondang” sutradara Yusril yang dikenal sebagai sutradara Komunitas Seni-Hitam Putih dari Padang Panjang, Sumatera Barat.Penonton

Kelas Menengah

Hampir seluruh pertunjukan dalam Karya hasil Indonesia Kita memang menjadi daya tarik yang ditunggu penonton kelas menengah Jakarta. Diantara mobilitas sehari-hari di Jakarta yang membuat manusia menjadi mekanis dengan pekerjaan dan kesibukan. Masyarakat Jakarta membutuhkan panggung yang menghibur. Sesuai dengan tagline “Memandang Indonesia Secara Jenaka”. Indonesia Kita menampilkan sisi elegan yang kocak dengan bumbu tradisi berbalut nasionalisme.

Empat parameter untuk menakar pertunjukan-pertunjukan Indonesia Kita di atas, memang tak sepenuhnya relevan. Teater sebagai seni pertunjukan dipandang sebagai unsur yang kompleks dan berubah sesuai dengan ruang dan waktu, termasuk pada kalangan penonton. Pengamat seni pertunjukan, Seno Joko Suyono, dalam tulisannya tentang “Bedaya Silikon” mengungkapkan, meriahnya respon penonton bukan parameter untuk menakar kualitas pertunjukan malam itu. Sebab sering penonton GBB (Graha Bhakti Budaya) lebih bereaksi spontan terhadap hal-hal komunikatif yang langsung bisa tertangkap. Tepuk tangan tidak menjadi idealisisasi untuk menakar kualitas petunjukan.Di perkotaan, khususnya Jakarta, menururt Sri, penonton akan berdoyong-doyong menonton jika ada strategi khusus yang dilakukan kelompok atau lembaga teater tersebut dari reputasi aktor dan teaternya yang dikenal berkualitas.  Pertunjukan “Maling Kondang” menampilkan Nirina Zubir, Oppie Andaresta, politikus Effendi Gozali dan beberapa sosok entertain yang cukup dikenal publik. Hari pertama dan kedua petunjukan, cukup memenuhi Graha Bhakti Budaya yang memiliki kapasitas penonton ratusan. Indonesia Kita memiliki manajemen strategi panggung yang nyaris ideal untuk menarik kebutuhan menonton Teater.

Transformasi Foklore Ke Panggung Modern

Malin Kundang termasuk pada Foklore jenis legenda setempat yang turun antar generasi dan dianggap oleh yang punya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Minangkabau yang menarik garis matrineal dari pihak Ibu mungkin cukup berpotensi besar untuk mengingatkan generasi muda selankutnya dalam sikap dan budi pekerti pada Ibu.

Tim kreatif Indonesia Kita mengambil esensinya, jika seorang pemimpin punya kesalahan, sebagai orang yang berkuasa, maka kesalahan orang yang berkuasa ini akan mencelakakan semuanya. Inilah yang relevan di negeri ini, kisah malin kundang berkembang, dihubungkan dengan situasi saat ini.

Sebagai pertunjukan tragedi satir dengan berusaha mengungkapkan bagaimana bila di situasi2, konteks seperti sekarang dilakukan oleh orang-orang yang besar-pengusaha besar, partai besar. Maling Kondang memberikan kesan, bila yang kita teladani (pemimpin) justru yang membawa masalah.

Masyarakat Minang memiliki tradisi yang kuat tercermin pada kesenian randai, selain tari piring yang juga tampil di Maling Kondang. Dalam randai ada 4 unsur yang tidak boleh hilang: pertama gurindam, kedua legaran atau gerak/koreografi, ketiga pantun dan keempat dendang.

Sesuai dengan ciri khas orang Minang dalam berpantun, patatah-patitih, teka-teki dan berdendang lagu tradisi. Pertunjukan malam itu cukup memberikan ingatan dan humor yang segar setelah penonton meninggalkan kursi.

Indonesia Kita dan Maling Kondang memplesetkan sebuah legenda yang bertolak dari kesadaran anggapan lama. Jahitan adegan dan proses yang sebentar mampu mewujudkan pertunjukan yang masih membuat betah menonton karena pembaruan foklore yang segar dari perfektif apa yang paling wow saat ini, tiada lain: korupsi dan manipulasi.

Ratu Selvi Agnesia

http://selviagnesia.wordpress.com/2012/10/30/foklore-isu-korupsi-dan-penonton-kelas-menengah/
 
 
 



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Pertunjukan Teater Tubuh 'TANGGA' karya-sutradara Yusril Katil

Senin, 03 September 2012

Peraih Hibah Yayasan Kelola-Kategori Pentas Keliling di tiga tempat yaitu Taman Budaya Sumatera Barat (23 September 2012), Taman Ismail Marzuki-TIM (25 September 2012) dan STSI Bandung (27 September 2012).

Komunitas teater Hitam-Putih-Padangpanjang Sumatera Barat akan mementaskan naskah yang berjudul 'Tangga' di tiga tempat yaitu Taman Budaya Sumatera Barat (23 September 2012), Taman Ismail Marzuki-TIM (25 September 2012) dan STSI Bandung (27 September 2012). Pertunjukan ini terlaksana berkat dukungan Yayasan Kelola, Hivos, Dewan Kesenian Jakarta, dan STSI Bandung. Karya-sutadara Yusril ini pertama kali proses dilakukan pada bulan Oktober tahun 2006. Karya ini sudah pernah dipentaskan di Gedung Hoerijah Adam ISI Padangpanjang (21 Juli 2007) dan Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat (27 Juli 2007) sebagai salah satu peraih Hibah Seni Yayasan Kelola dengan kategori karya Inovatif. Karya ini juga menjadi salah satu wakil ISI Padangpanjang untuk tampil dalam kegiatan Festival Kesenian Indonesia (FKI V) ISI Denpasar (21-25 November 2007). Sekarang, Tangga’ karya-sutadara Yusril sedang menjalani tahap eksplorasi yang ke tiga,  dengan berbagai pengembangan bentuk dan pilihan estetika pertunjukan yang mencoba mempertegas dan menajamkan aspek bahasa tubuh aktor-aktris dalam mengekplorasi tiga hal penting yaitu (1) eksplorasi properti tangga dalam mencari kemungkinan-kemungkinan gerak-gerak akrobatik; (2) penajaman gerak silat Minangkabau yang menjadi dasar utama dalam pertunjukan; dan (3) mempertegas korelasi antara kekuatan bahasa (dialog) dengan bahasa tubuh aktor-aktris di atas panggung melalui gestur-gestur yang non-realistik. 

‘Tangga’ karya-sutradara Yusril terinspirasi dari puisi Iyut Fitra dengan judul yang sama yaitu Tangga. Puisi ini secara implisit merupakan kritik terhadap dualisme kekuasaan di Minangkabau. Dualisme kekuasaan di Minangkabau dibangun dalam dua kelarasan yaitu Koto Piliang yang dipelopori oleh Datuk Ketumanggungan dan Bodi Chaniago yang dipelopori oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang. Kelarasan Koto Piliang memiliki akar pada Berjenjang naik bertangga turun, suatu sistem pemerintahan yang menitik dari langit (top down) sebagai wujud sistem kekuasaan aristokrasi. Sementara, keselarasan Bodi Chaniago memiliki akar pada Duduk sama rendah tegak sama tinggi, suatu sistem pemerintahan demokrasi Minangkabau yang lahir dari bawah (bottom up). 

Persoalan dualisme kekuasaan di Minangkabau ini menjadi gagasan utama Yusril dalam menggarap karya teater dengan judul Tangga. Masing-masing aktor melakukan penafsiran terhadap gagasan sutradara melalui wujud bahasa tubuh di atas panggung. Kalimat-kalimat puisi kemudian dibagi dan dipenggal sesuai dengan kebutuhan peristiwa di atas panggung. Masing-masing aktor mengucapkan penggalan teks puisi yang dikorelasikan dengan penggunaan properti tangga. Wujud akting yang dilakukan oleh masing-masing pemain pada dasarnya mencoba menafsirkan gagasan sutradara melalui bahasa tubuh (gestur, ekspresi, vokal) yang cenderung multi-tafsir dan konotatif. Persoalan dualisme kekuasaan yang terdapat di Minangkabau, dapat menjadi persoalan yang dipahami sebagai kekuasaan yang bersifat lokal maupun universal.

Keistimewaan Pertunjukan Teater ‘Tangga’ karya-sutradara Yusril
Pertunjukan ‘Tangga’ diwujudkan melalui bahasa tubuh aktor secara spesifik memiliki keistimewaan mendasar yaitu; (1) bahasa tubuh aktor dalam pertunjukan ‘Tangga’ memberikan tafsir terhadap dualisme kekuasaan di Minangkabau; (2) penciptaan wujud visual pemanggungan melalui frame panggung (mise en scene) dalam pertunjukan dibangun secara vertikal dan horizontal. Aktor tidak hanya bermain dalam pola lantai horizontal, namun juga pengolahan ruang pertunjukan yang dibangun secara vertikal; (3) properti tangga, dieksplorasi sedemikian rupa menjadi repertoar estetis dan artistik yang dipadukan dengan elemen pendukung seperti pencahayaan panggung dan musik; (4) bertitik tolak pada gerak silat Minangkabau sebagai basis gerak dalam mewujudkan bahasa tubuh dalam mengungkap persoalan dualisme kekuasaan di Minangkabau; (5) berangkat dari puisi Iyut Fitra berjudul Tangga. Masing-masing aktor mengkomunikasikan puisi tersebut kepada penonton dalam bentuk yang naratif, proses ini dikombinasikan dengan bahasa non verbal yang diwakili oleh bahasa tubuh aktor.

Komunitas Seni HITAM-PUTIH

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

PANGGUNG PUBLIK SUMATERA (World Theatre Day 2012)-Menjamu Penonton di Ruang Publik

Pertumbuhan teater di Sumatera Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya dalama lima tahun terakhir tidak lepas dari sumbangsih kelompok maupun seniman yang berdomisili di Padangpanjang. Kelompok maupun seniman teater ini telah ikut mengharumkan nama perteateran nasional. Sayangnya untuk kota Padangpanjang sendiri keberadaan mereka belum terasa ‘akrab’ di masyarakat. Untuk itulah dalam satu diskusi antara sutradara teater dan seniman bersepakat kerja bersama mengenalkan teater baik secara bentuk, genre, style teater maupun senimannya kehadapan masyarakat (publik) di Padangpanjang.

‘BATU’ karya-sutradara Muhammad Hibban Mauludi Hasibuan
‘COMPLICATED’ karya Yusril-sutradara Kurniasih Zaitun
‘CERAMAH ILMIAH Dr. ANDA’ karya Wisran Hadi-sutradara Deri Shukaik. Aktris : Rakena Anjani Amak
‘SI TUPAI JANJANG’, sutradara Edi Satria Mak Itam
“ORANG-ORANG BAWAH TANAH” karya Wisran Hadi-sutradara Yusril
‘DONGENG MANDE DARI BUKIT TUI’ karya-sutradara Tya Setiawati
“MATAHARI DISEBUAH JALAN KECIL” karya Arifin C Noer-sutradara Fitri Noveri
‘KORUPTOR BUDIMAN’ karya NN. Aktor : Andi Jagger
Pertemuan sesama penggiat teater telah dilakukan di sekretariat Teater Sakata Padangpanjang, Jl. Soekarno – Hatta No. 62 Bukit Surungan, Padangpanjang pada tanggal, 29 Desember 2011 dan 4 Januari 2012 yang dihadiri oleh Komunitas Seni Hitam Putih, Komunitas Seni Kuflet, Teater Plong, Sembilan Ruang, Kelompok Pematang, Katatari, Batahimimetheatre dan Teater Sakata sebagai tuan rumah. Dalam pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan antara lain: setiap kelompok mengirimkan utusannya untuk duduk di kepanitiaan dan memiliki tanggung jawab untuk mensukseskkan kegiatan yang sedang dirancang.

Kegiatan yang dianggap cocok untuk melaksanakan iven ini adalah Hari Peringatan Teater Sedunia (WORLD THEATRE DAY) yang jatuh pada tanggal, 27 Maret 2012, yang kemudian diberi tema “Menjamu Penonton diruang Publik” dengan judul publikasi “Panggung Publik Sumatera”. Lokasi acara yang direncanakan adalah: tambang perkapuran Bukit Tui (Bancalaweh) dan Pasar Padangpanjang.

Kemudian pertunjukan yang akan ditampilkan adalah: Monolog, Mime, Teater Modern, Teater Tradisi, dan Teater Kontemporer. Selanjutnya acara dilanjutkan oleh sarasehan teater dengan mengundang pembicara: Halim HD (pengamat teater nasional) Solo dan Yusrizal KW (kritikus teater-wartawan budaya Padang Ekspres).


Harapannya dari kegiatan ini masyarakat Padangpanjang dapat mengenal lebih jauh pentas seni teater baik secara bentuk maupun senimannya sebagai ruang silaturahmi sehingga perkembangan teater di kota Padangpanjang menjadi basis kekuatan teater di Sumatera.

RUN DOWN WORLD THEATRE DAY 2012
PANGGUNG PUBLIK SUMATERA
“Menjamu Penonton di Ruang Publik”
Senin-Selasa/26-27 Maret 2012
Tempat: Pasar Padangpanjang, Gedung. M. Syafei dan Bukit Tui Padangpanjang-Sumatera Barat
SENIN, 26 MARET 2012
1. Teater Tutur dengan judul ‘MALIN KUNDANG’. Aktor: Lee Production
(Pukul 13.30 wib-14.00 wib di Pasar padangpanjang)
2. Teater Tutur dengan judul ‘TUPAI JANJANG’. Aktor : Fuji El Ikhsan
(Pukul 14.00 wib-15.00 wib di Pasar padangpanjang)
3. komunitas seni HITAM-PUTIH dengan pertunjukan berjudul “ORANG-ORANG BAWAH TANAH” karya Wisran Hadi-sutradara Yusril
(Pukul 13.00 wib-16.00 wib di Lapangan Voli KORAMIL Padangpanjang)
4. Teater Sakata dengan pertunjukan berjudul ‘DONGENG MANDE DARI BUKIT TUI’ karya-sutradara Tya Setiawati
(Pukul 16.30 wib-17.30 wib di Bukit Tui Padangpanjang)
5. Monolog dengan judul ‘COMPLICATED’ karya Yusril-sutradara Kurniasih Zaitun. Aktor :Edi Satria Mak Itam
(Pukul 16.30 wib-17.30 wib di Pasar Padangpanjang)
6. Naskah Monolog dengan judul ‘CERAMAH ILMIAH Dr. ANDA’ karya Wisran Hadi-sutradara Deri Shukaik. Aktris : Rakena Anjani Amak
(Pukul 20.00 wib-21.30 wib di Pasar Padangpanjang)
7. komunitas Sambilan Ruang dengan pertunjukan berjudul “MATAHARI DISEBUAH JALAN KECIL” karya Arifin C Noer-sutradara Fitri Noveri
(Pukul 20.00 wib-21.30 wib di Pasar Sayur Padangpanjang)
8. komunitas BATAHI MIME THEATRE dengan pertunjukan berjudul ‘BATU’ karya-sutradara Muhammad Hibban Mauludi Hasibuan
(Pukul 21.30 wib-22.30 wib di Pasar Sayur Padangpanjang)
SELASA, 27 MARET 2012
1. Arak-arakan
(Pukul 10.00 wib-10.30 wib, Bukit Surungan-Pasar Padangpanjang)
2. Pembukaan
(Pukul 10.30 wib-11.20 wib di Pasar Padangpanjang)
3. Baca Puisi, Happening Art
(Pukul 10.40 wib-12.00 wib di Pasar Padangpanjang)
4. Grup KUCIANG TUO dengan pertunjukan teater rakyat Minangkabau berjudul ‘SI TUPAI JANJANG’, sutradara Edi Satria Mak Itam
(Pukul 11.20 wib-12.00 wib di Pasar Padangpanjang)
5. Monolog dengan judul ‘KORUPTOR BUDIMAN’ karya NN. Aktor : Andi Jagger
(Pukul 14.00 wib-15.30 wib di Pasar Padangpanjang)
6. Pembukaan Sarasehan
Oleh Wakil Walikota Padangpanjang (Ir. H.Edwin, Sp)
(Pukul 16.00 wib-16.15 wib di Gedung M. Syafe’i Padangpanjang)
7. Sarasehan Teater bersama Halim HD (Kritikus Teater, Networker Kebudayaan) dan Yusrizal KW (Kritikus Teater, Sastrawan, Budayawan)
(Pukul 16.15 wib-18.00 wib di Gedung M. Syafe’i Padangpanjang)

PANITIA
PANGGUNG PUBLIK SUMATERA 2012
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Teater Tubuh "MENUNGGU" karya-sutradara Yusril

Senin, 23 Januari 2012


Jumat-Sabtu, 18-19 Februari 2000, pukul 20.00 WIB
Pentas Teater Hitam Putih, Padang Panjang
"Menunggu"
Karya / Sutradara : Yusril
(Kerja sama dgn CCF
Jakarta)
Di Komunitas Utan Kayu (Teater Utan Kayu), Jl. Utan Kayu No. 68H, Jakarta
Timur. Telp. 8573388 / Fax. 8573387

Menungg
u
Media massa senantiasa menyuguhkan darah dan air mata. Bahasa tak lagi dapat
dipahami. Namun kita tahu bahwa rakyat dibantai, dicekik, dan dhisap
darahnya. Manusia dirobotkan. Sistem komu
nikasi mengalami error. Media massa
tak lagi mampu memberitakan apa-apa, kecuali menjadi corong penguasa.

Yusril, dosen teater STSI Padang Panjang y
ang menjadi sutradara pementasan
ini, menyadari bahwa pada akhirnya teat
er adalah sebentuk refleksi dari
persoalan yang begitu jamak dan rumit yang ada di sekitar kita. Aktualisasi
di atas pentas yang menghadirkan pelba
gai simbol dan karakter, niscaya
berada dalam satu wacana dengan kebebasan manusiadalam arti yang
seluas-luasnya.

Properti tidak hanya berfungsi sebaga
i setting mati, namun sekaligus
menjelaskan diri mereka sendiri:
teror, sampah, juga tanah pekuburan. Bahasa
tubuh, adegan-adegan akrobatik, menjadikan
lakon Menunggu sebagai sistem
semiotik dalam ruang dan waktunya sendiri. Segala elemen estetik terangkum
dlm kesatuan wacana yang tak lagi hanya menc
ari, melainkan juga memberi dan
diberi makna.



Friday-Saturday, Februar
y 18 - 19, 2000
At 20.00pm Indonesian Western Time Zone
Hitam Putih Theatrical Performance, Padang Panjang
"Menunggu" (Lo
nging)
Written/Directed By: Yusril
(In cooporation with CC
F Jakarta)


Menunggu (Longing)
The mass media tends to exploit blood an
d tears. Language can no longer be
understood. However, we know that the people are being slaughtered,
strangled and sucked dried. De-humanization process. Communication system
error. The mass media can no longer rep
ort anything, except being the
speaker of the ruling party.

The director of this show, Yusril, a lecture
r for theatre in STSI, Padang
Panjang realizes that in the end a theatre is a form of reflection of the
many and complex problems around us. The
on-stage actualization presenting
many symbols and characters which will hopefully be at the same meaning as
human freedom in the broadest sense of the word.

Properties will not only function as static settings but will also reflect
themselves: terror, junk, and the cemetery ground. Body language and
acrobatic scenes turn the play into a semiotic system in its own time and
space. All of esthetics elements are included into one media which no longer
only seeks but also gives and receives meanings.


(Indah M.Rafli)
(http://groups.yahoo.com/group/lintaseni/message/91)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Parade Teater Naskah Wisran Hadi

Rabu, 14 Desember 2011


“Selamat Datang di Koto Tingga”

Padang Ekspres • Minggu, 13/11/2011 10:30 WIB • Gusriyono, Padang

…. Ada kunjungan. Datang sumbangan. Tidak berbunga. Kalungkanlah!
Kalungkan bunga-bunga….
…. Ada kunjungan. Turun bantuan. Lunak bunganya. Sajikan!
Sajikanlah adat budaya lama….
Selamat datang di Koto Tingga. Welcome….


Malin meneriakkan kata-kata tersebut beberapa kali melalui toa atau pengeras suara yang dipegangnya. Pemberitahuan tersebut sebagai isyarat agar penduduk Koto Tingga, yang tinggal beberapa orang itu, bersiap-bersiap menyambut tamu yang berkunjung dengan tarian sesuai budaya yang mereka pertahankan—dalam hal ini Minangkabau. Muncullah penduduk Koto Tingga yang berprofesi sebagai pedagang, yang menjual berbagai macam produk Koto Tingga termasuk adat dan budaya.

Kemudian, pemusik dengan gandang tamburnya menyajikan musik riang menyambut pengunjung, diiringi penari, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Mereka menarikan budaya lama itu di depan kuburan yang dianggap kuburan Bundo Kanduang. Kuburan itu didirikan di atas tanah yang disewa secara kredit kepada Panglimo.

Adalah 7 orang pelarian revolusi, Malin (Afrizal Harun), Ustad (Dedi Darmadi), Pakih (Anggi Hadi Kesuma), Katik (Syafriandi Afridil), Siti Cannon (Ayuning Saputri), Puti Xerox (Elsa Novri Asminda), dan Gadih (Winda Sesmita). Mereka menetap dan mempertahankan budaya lama di Koto Tingga, sebagai tameng persembunyian.

Kemudian, masing-masing menganggap diri pahlawan kebudayaan, yang mempertahankan adat dan pusaka lama itu, sembari menjualnya kepada para pengunjung. Termasuk memperkelam sejarah, melalui kuburan Bundo Kanduang dan ahli warisnya, seperti perebutan pemimpin upacara adat antara Puti Xerox dengan Siti Cannon.

Berbagai kejadian lengkap beserta konfliknya tersaji dengan renyah dan penuh olok-olok di lapangan terbuka yang dijadikan Koto Tingga itu. Sebagaimana naskah itu ditulis oleh Wisran Hadi—pun naskah-naskahnya yang lain—berisi kritikan terhadap adat dan budaya lama dengan gaya bercemooh atau olok-olok yang satir.

Menariknya, pementasan naskah Orang-Orang Bawah Tanah yang disutradarai Yusril dan diproduksi Komunitas Hitam Putih ini memilih pakaian adat Minangkabau sebagai kostum pemain. Sesuatu yang sudah sangat jarang ditemukan dalam pementasan teater atau sandiwara sekali pun di zaman sekarang.

Pilihan pakaian adat ini akan mengingatkan penonton pada pementasan sandiwara pada tahun-tahun 1980an atau sebelumnya. Untung saja, Yusril tidak menggunakan layar yang buka-tutup setiap pergantian adegan. Kalau iya, klop deh, jadulnya…. Serasa berada di tahun-tahun Yusril muda, barangkali. Hehe…


Diakui Yusril, pilihan kostum tersebut sebagai upaya memberikan tontonan alternatif bagi penonton terutama kalangan generasi muda. Bahkan, katanya, ketika dipentaskan di teater arena ISI Padangpanjang, beberapa penonton terharu, melihat masih ada yang memakai pakaian adat dalam pertunjukan teater.

Kemudian, pilihan lain yang diambil Yusril, mendekatkan pemain dan permainan ke penonton dengan pentas di lapangan terbuka. Seperti yang dilakukan pada Jumat (11/11) malam.

Di tanah lapang bekas reruntuhan Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Sumbar, Orang-Orang Bawah Tanah dipentaskan Yusril dengan penonton yang duduk lesehan di karpet. Sesekali, terjadi interaksi antara pemain dan penonton. Melalui cara ini, Yusril ingin menunjukkan teater bisa pentas dan hadir di mana saja. Tidak mesti di gedung pertunjukan. Ia bisa hadir di pasar, di mall, di lapangan bola, dan ruang-ruang publik lainnya.


Hanya saja, diakui Yusril, pementasan di lapangan terbuka malam itu sedikit luput dari perhitungan distorsi bunyi atau suara. Tidak seperti pementasan sebelumnya di ISI Padangpanjang yang berada dalam gedung teater arena, pementasan di lapangan terbuka Taman Budaya diwarnai dengan bunyi mesin kendaraan, seperti mobil dan sepeda motor hingga pesawat, suara-suara orang latihan menyanyi dan musik, dan sebagainya. Jadilah Koto Tingga, seperti kota yang riuh.

Termasuk juga, perhitungan bloking pemain, yang membuat letih karena jarak yang terlalu jauh. Lapangan terbuka yang lebih luas panggung teater arena telah menguras stamina pemain. Mungkin, resiko ini perlu juga dipertimbangkan di masa datang.

Naskah Orang-Orang Bawah Tanah ini dipilih Yusril, karena mengetahui proses penulisan naskah tersebut, mulai dari ide sampai observasi yang dilakukan oleh Wisran Hadi. Kemudian, sekitar 20 tahun lalu, Yusril juga membawa berkeliling pementasan naskah ini. Dengan konsep yang berbeda dari pementasan sekarang.

Ketika itu, naskah ini dimainkan dengan konsep realis di atas panggung gedung pertunjukan. Kuburan Bundo Kanduang dihadirkan berbentuk kuburan sebenarnya, tidak seperti pementasan kali ini, yang hanya disimbolkan dengan bentangan kain merah persegi panjang. Serta berbagai perbedaan lainnya.

Penulisan naskah ini, menurut Yusril, ketika pemerintah menggalakkan program Visit Indonesian Year 1990. Ketika itu, seperti juga sekarang, pemerintah kasak-kasuk ingin melestarikan kebudayaan daerah untuk dijual kepada para pengunjung atau wisatawan, sebagai penambah devisa bagi Negara.

Maka, muncullah orang-orang yang menganggap diri pahlawan pelestari kebudayaan dengan berbagai atributnya. Fenomena inilah yang bertahun-tahun silam dikritik oleh Wisran Hadi melalui naskah dramanya tersebut. Termasuk juga persoalan-persoalan sejarah dan mitos yang dipercayai masyarakat, yang sengaja digadang-gadang untuk mengembangkan pariwisata.

Begitulah, orang-orang mulai meninggalkan Koto Tingga satu persatu. Hingga menjadi negeri yang ditinggalkan dan tertinggal. Tidak ada lagi ucapan selamat datang atau welcome. (*)

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Parade Teater Naskah Wisran Hadi 12-16 November

Ditutup OBT, Dibuka Matrilini

Padang Ekspres • Sabtu, 12/11/2011 15:12 WIB • S Metron M & Gusriyono

Memperingati 35 Tahun Bumi dan In Memoriam Wisran Hadi (berbentuk parade teater) terus berlanjut. Untuk 35 Tahun Bumi ditutup dengan pementasan Orang-orang Bawah Tanah (OBT) kemarin malam. Sedangkan untuk parade teater, Matrilini akan jadi pembuka malam ini di Teater Utama Taman Budaya Sumbar.


OBT berkisah tentang tujuh orang yang melarikan diri akibat dikejar-kejar ke Kototingga. Mereka menyamar jadi pemandu turis-turis yang datang melihat kuburan Bundo Kanduang. Padahal, di bawah kuburan itu tersimpan dokumen-dokumen penting partai terlarang.

Yusril sebagai sutradara pementasan membawa 36 personel untuk mementaskannya. Dosen ISI Padangpanjang yang terkenal dengan eksperimentasi tubuh ini keluar dari konvensi yang dianutnya. “Kali ini saya taat naskah,” katanya saat ditemui di ruang bulek Chairil Anwar Taman Budaya kemarin.

Selain menghormati naskah, Yusril ingin kembali bernostalgia.
Sebab, OBT termasuk naskah yang sering dibawakannya. Saat kuliah di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Unand, Yusril dua kali mementaskannya.

Yusril memilih bekas gedung teater tertutup sebagai lokasi pementasan. OBT memang naskah yang fleksibel. Bisa dimainkan di dalam dan luar gedung. Di bekas reruntuhan itu, Yusril menset panggung dengan bentuk arena. Artinya, penonton melingkari pertunjukan. Ini tentu ciri khas randai.


Pemain juga fleksibel. Karena dekat dengan penonton, saat tidak berperan aktor berbaur dengan penonton. Ada yang minum atau merokok. “Teman-teman (pemain, red) akan berhasil memainkannya. Mereka enjoy,” katanya sebelum pertunjukan.

Sebelum OBT, dari pagi digelar seminar pendidikan karakter. Temanya cukup menarik; Sanggar Teater, Satu Metode Pendidikan Karakter. Pembicaranya Burhasman Boer dari Dinas Pariwisata Sumbar, Riri Amalas Yulita (Aktor Bumi) dan Dhanny Moer (alumnus IKJ).

Di sesi pagi, dua nama pertama menjadi pembicara. Riri melihat kepemimpinan (leadership) Wisran Hadi saat proses pertunjukan teater. Pak Wis (begitu Riri memanggil) mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap diri pemain. “Uniknya, cara itu dilakukan tanpa disadari Anak Bumi (aktor, red),” ujarnya.

Meski menjadi role model, Pak Wis tidak menjadikan kepemimpinannya dalam bentuk turunan. Dia menjalankan atau mengatur setiap anak Bumi mau memberi koreksi kepada temannya dengan “tubo dosis tinggi”. Tubo inilah, perlahan membentuk sikap hidup dari anak Bumi yang kemudian menjadikan mereka “sesuatu” di kemudian hari.

Pembentukan karakter di Bumi, dilakukan dengan bahasa yang sederhana sampai yang rumit. Pemain pun dengan senang hati “menelannya”. Namun, Pak Wis juga sadar, pembentukan karakter tidak akan selasai sehari dua. Pak Wis ikut dan menikmati proses itu sampai karakter itu mengkristal dengan sendirinya.

Ada empat karakter kuat yang selalu ditanamkan Pak Wis, tulis Riri. Pertama, kecerdasan. Lalu kejujuran, ketangguhan dan terakhir, kepedulian.
Diskusi yang dimoderatori Zirmayanto (Anak Bumi), belangsung menarik. Guru-guru yang hadir mulai mempertanyakan praksis dari sanggar teater. “Tanya ke kepala Taman Budaya,” ujar Burhasman.

Di sesi kedua, hal teknis ini yang dibahas. Dhanny dengan lancar menjelaskan proses teater yang ada. Anak Solok itu menceritakan bagaimana proses sebuah teater. Dalam sesi ini, Dhanny langsung mempraktikkan beberapa bagian dasar teater. Peserta diajak untuk berinteraksi. Seperti latihan vokal. Peserta pun diajak melafazkan aiueo dengan beragam gaya, bahkan sampai bernyanyi.

Tampil Habis-habisan
Sementara itu, Teater Sakata yang tampil di malam pertama berjanji akan tampil habis-habisan. Sabtu pagi mereka sudah sampai di Taman Budaya untuk penyesuaian pentas. Teater Utama akan menjadi panggung parade teater sampai 16 November mendatang, Enrico Alamo sebagai manajer panggung mengaku membawa 25 personel untuk pementasan kali ini.

Naskah Matrilini, seperti kebanyakan drama Pak Wis, bercerita tentang benturan adat. Apakah yang mesti diikuti lebih dulu, agama atau adat? Kehidupan Minangkabau yang berada di antara adat dan agama, tentu tidak selamanya selaras.

Percikan benturan ini yang digarap oleh Pak Wis . Dialog-dialognya menggelitik dan merangsang pikiran. Apabila dibawakan dengan pas, maka syaraf tawa akan terpantik.

Nama Sakata yang mulai bergaung di pentas Indonesia merasa tertantang dengan naskah Matrilini yang mereka bawakan. Sewaktu pertemuan grup Oktober lalu, Riko mengaku dua kali menukar naskah untuk pementasan ini. Meski akhirnya bentrok dengan Teater Kamus, yang juga membawakan naskah yang sama, Riko yakin pertunjukannya akan beda. Pertunjukan ini akan dilaksanakan pada pukul 20.00, malam ini. (***)

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

JiFFest Traveling 2010

JiFFest Traveling adalah program pemutaran film-film lokal dan internasional, fiksi maupun dokumenter, yang pernah diputar di JiFFest ke berbagai kota di Indonesia selain Jakarta. Di tahun 2010 ini, JiFFest Traveling mengunjungi para pecinta film di kota Medan (7-9 Mei), Padang (14-16 Mei), Malang (21-22 Mei), Solo (28-30 Mei), Banjarmasin (4-6 Juni) dan Makassar (11-13 Juni).

Ada 16 program di pemutaran kali ini, termasuk di antaranya pemutaran film-film dokumenter seri Think, Act, Change dari The Body Shop, seri Tales from Jakarta, Bulan Sabit di Tengah Laut karya Yuli Andari, dan Letters To The President karya Petr Lom.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

screenDocs! Regular Padang November 2009



screenDocs! Regular
Senin, 30 November 2009
14.00 WIB
Kafe Apache, Jl. A. Yani Kampung Cina, Bukittinggi

Pemutaran Film dan Diskusi tentang Anak

Wow! Vanessa - The Big Jump
George Bussek | Jerman | 2004 | 15 menit
Vanessa melompat di depan mobil yang melaju kencang dan meloncat dari atas punggung kuda. Dia berkelahi dengan teman-temannya, namun orang tua Vanessa malah senang dan bangga akan dirinya. Vanessa yang berusia 11 tahun, ingin menjadi stunt girl! Sebentar lagi ia harus terjun dari ketinggian 6 meter. Vanessa telah berlatih keras, namun ia membutuhkan keberanian besar untuk melakukan hal ini.

Tom W.
Anna Wieckowska | Polandia | 2005 | 28 menit
Tom berusia 12 tahun, tinggal di Polandia. Ia merasa bertanggung jawab terhadap keluarganya. Mereka semua tinggal di bangunan tua tanpa saluran air dan pemanas ruangan. Tom merawat keluarganya seperti layaknya orang dewasa. Dia menelusuri kota kecil tempat tinggalnya untuk mencari pekerjaan. Uang yang didapat Tom digunakan untuk keperluan seluruh keluarga.

Joki Kecil
Yuli Andari, Anton Susilo | Indonesia| 2005 | 20 menit
Pacuan kuda adalah tradisi rakyat yang populer di Sumbawa. Para pengendara kuda adalah anak-anak yang nasibnya tidak sebagus para pemilik kuda. Joki kecil harus menaiki kuda liar tanpa peralatan keamanan yang memadai dengan imbalan yang tidak seberapa. Orang-orang yang berperan dalam pacuan kuda ini, ikut andil dalam arena kemenangan, kebanggaan, perjudian dan kepedihan.
Film Dokumenter Terbaik & Film Favorit Pemirsa, Metro TV Eagle Award, Indonesia 2005
Film Dokumenter Pendek Terbaik, Festival Film Pendek Konfiden, Indonesia 2006
Film Dokumenter Pendek Terbaik, Jakarta Slingshort Festival, Indonesia 2006
Film Dokumenter Pendek Terbaik, Asian Competition Section, Tehran Int'l Short Film Festival, Iran 2006
Film Dokumenter Terbaik, Festival Epona, French 2007


Di Atas Rel Mati
Nur Fitria Nafiz, Welldy Handoko | Indonesia | 2006 | 17 menit
Wahyudi, Ropik, Ade dan Wanto menuturkan keseharian mereka sebagai "anak lori". Anak-anak ini bertahan hidup dengan menyediakan jasa transportasi lori dorong, yang bisa mengangkut penumpang dan barang yang kerap dimanfaatkan oleh warga kampung Dao Atas, Ancol, Jakarta. Kehidupan sebagai anak lori membuat mereka beranggapan bahwa sekolah tidak penting, dan bersikap skeptis dalam memandang masa depan mereka.
Film dengan Editing Terbaik, Metro TV Eagle Awards, Indonesia 2006
Film Favorit Juri, Festival Film Dokumenter, Indonesia 2006
Film Dokumenter Terbaik, Festival Film Konfiden, Indonesia 2007


Narasumber:
Edy Suisno (pengamat sosial dan pemerhati film)

Pemutaran terbuka - tidak dipungut biaya

Kontak:
Tintun
T. +62-812-6749614

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

DUA PEMENTASAN TEATER YANG ANTIKLIMAKS


35 TAHUN BUMI DAN IN MEMORIAM WISRAN HADI

dua kelompok teater yang menasbihkan dirinya sangat dekat dengan sosok almar­hum teaterawan Wisran Hadi, menyuguhkan pementasan teater dalam helat 35 Tahun Bumi. Masing-masing mengu­sung bentuk garapan yang berbeda.

Gaung Eskpose Padang mengangkat naskah—yang tak jelas maksudnya, mengapa bukan karya Wisran Hadi—Gubernur Nyentrik dipentaskan prosenium. Kelompok seni Hitam Putih membawakan karya Wisran Hadi, Orang-orang Bawah Tanah yang ditampilkan di luar pentas atau di lapangan terbuka.

Kedua orang yang me­nyutradarai pertunjukan teater itu: Armeynd Sufhasril dan Yusril, bukan anak kemarin sore dalam jagat teater Su­matera Barat. Keduanya—kendati beda usia— sudah bertungkus lumus bersama Bumi Teater, tapi, sayang sekali, kedua garapan yang disuguhkan seperti men­jauh dari apa yang pernah dihasilkan Bumi Teater selama ini. Dua pementasan yang menjadi antiklimaks. Menurun dari dari berbabagai aspek.

Tiga puluh lima tahun silam, sekitar Januari 1976, saat proses latihan teater berjudul Gaung dengan naskah dan sutradara Wisran Hadi, sema­cam manifes dinyatakan untuk penanda kehadiran Bumi Te­ater.

“...Teater kami adalah teater yang berpijak dan tumbuh di bumi. Tidak ada alasan sedikit pun buat kami mencari bumi yang lain untuk kami bertolak. Pertanggungan jawab dari corak dan gaya penyampaian serta sikap, adalah pada Allah SWT. Karena kami percaya bahwa bumi tempat kami berpijak adalah bumi yang dititipkan Allah SWT pada kami.”

Manifes ini bukan sekadar kalimat basa-basi pelengkap kehadiran Bumi Teater. Mani­fes ini merupakan gejolak keprihatinan atas gelombang ‘kematian’ kesenian Sumatera Barat, khususnya teater pada saat itu. Di mana Sumatera Barat tidak tampak dalam peta perteateran di Indonesia. Di mana ruang, seperti Taman Ismail Marzuki (TIM), ruang kebanggaan kesenian yang di bangun di pusat negeri ini (Jakarta) seolah tak terjangkau oleh penggiat teater Sumatera Barat. Tak terjangkau, atau bisa jadi pada saat itu, tak ada kemampuan untuk men­jang­kau.

Sejak manifes itu, Bumi Teater, Sastra, dan Seni Rupa dengan ujung tombaknya Wis­ran Hadi berusaha masuk dalam ruang-ruang yang belum terjangkau. Wisran Hadi, secara personal atau atas nama Bumi telah menjadi catatan penting dalam konstelasi perteateran Indonesia.

Setidaknya, sudah sekitar 50 pementasan teater yang dihadirkan, dari pementasan pertama (Gaung, 1976) sampai pementasan paling akhir (Wa­yang Padang, 2006). Puluhan naskah karya Wisran Hadi pun menjadi tolok ukur, men­jadi per­bincangan ber­bagai pihak, atas muatan-mua­tan yang dikan­dungnya. Naskah yang sebagian be­sar men­jadi jawara di ajang-ajang per­lom­ba­an naskah bergengsi di Indo­nesia.

Tapi sejak me­ning­galnya Wis­ran Hadi be­-­be­rapa bulan silam, sejak Bumi Teater kali terakhir mementaskan pertun­jukannya, apakah manifes atau spirit teater moderen yang dihadirkan Wisran Hadi dise­rap oleh para teaterawan atau kelompok teater di Sumatera Barat sebagai suatu kebaruan yang patut terus dieksplorasi?

Dan pembukaan peringatan 35 Tahun Bumi dan In Me­moriam Wisran Hadi di Taman Budaya Sumatera Barat adalah pembuktian. Dari tanggal 9-11 November, tiga kegiatan digelar, yakni pementasan teater oleh grup Gaung Ekspose berjudul Gubernur Nyentrik (karya Agustan T Syam) sutradara Armeynd Sufhasril, Temu Anak Bumi Teater dengan pembacaan obituari Wisran Hadi oleh Darman Moenir, serta pementasan teater berjudul Orang-orang Bawah Tanah (karya Wisran Hadi) oleh kelompok seni Hitam Putih dengan sutradara Yusril. Tiga tajuk acara yang bisa jadi adalah penggambaran dari spirit 35 tahun Bumi, peng­gambaran sejauh mana manifes yang dipatrikan puluhan tahun silam itu diterima dan dieksp­lorasi terus menerus oleh para teaterawan di Sumatera Barat.

Tiga tajuk acara yang diisi oleh orang-orang yang pernah berproses panjang di Bumi Teater atau berde­katan secara emo­sional dengan Wisran Hadi. Tiga tajuk acara mem­buka sembilan per­tun­jukan lain, akan beruturut-turut dalam sepekan, pertunjukan yang akan membuka celah-celah wacana dalam naskah yang pernah dibuat Wisran Hadi.

Gaung Berusaha “Nyentrik”

Kelompok Teater Gaung Ekspose, mempertunjukkan “Gubernur Nyentrik” di Teater Utama Sumatera Barat (9/11) malam. Dengan naskah yang ditulis Agustan T Syam terse­but Armeynd Sufhasril berusaha menghadirkan (ulang) per­soalan ‘korupsi’ yang sudah sering dibahas dalam berita televisi. Beberapa pemain di dalam pertunjukan tersebut, sebagian besar sudah pemain lama, sudah pernah ikut ber­proses di Bumi Teater. Akan tetapi pertunjukan malam itu terasa tidak memberikan kon­tribusi penting dalam penanda angka ’35 tahun’.

Secara menyeluruh pementasan tersebut berusaha memparodikan kegiatan harian seorang gubernur dengan istri, ajudan, dan orang-orang yang berdekatan dengan lingka­rannya. Parodi yang hampir sama pembawaannya dengan cara grup “Teater Keliling” Rudolf Puspa mementaskan. Entah mana yang menyalin?

Sepanjang permainan ter­kadang tampak totalitas proses berteater dihancurkan secara tiba-tiba, entah kenapa, meski di beberapa sisi ada ‘aktor’, ada ‘properti’ ada keinginan untuk membangun totalitas tersebut.

“Apakah ini pertunjukan teater atau show musik dengan tema lagu-lagu Iwan Fals dan Slank sebagai penguat bahwa malam ini ada gugatan atas pemerintahan korup?”

Penonton yang terbiasa menonton pertunjukan teater ‘pintar’ tentu akan mem­perta­nyakan hal tersebut. Tapi tentu mereka yang senang dengan kelucuan banal seperti tayangan di televisi akan bertepuk tangan dan girang.

Bisa jadi kegagalan ini disebabkan Gaung Ekspose memainkan naskah yang tidak pas dengan karakter mereka yang selama ini mereka tunjuk­kan? Pertanyaan yang akan dijawab bersama. Pertanyaan yang pastinya akan dikem­balikan pada spirit angka ‘35’ tersebut—meski Gaung Eks­pose bukan Bumi Teater, tapi sebagian pemainnya pernah berproses dengan Wisran Hadi, angka ’35’ ter­s­ebut me­rupakan beban moral yang mesti di­tanggung.

Kembali pada Pijakan

Istilah ‘kembali pada pija­kan’ akan jadi perwakilan bagi pertunjukan ko­mu­nitas seni Hitam Putih dari Pa­dang Pan­jang yang me­men­taskan Orang-orang Ba­wah Tanah, Jumat (11/11) malam. Yusril, selaku su­tradara pemen­tasan tersebut berusaha masuk pada celah yang diberi dalam naskah Wsi­ran Hadi tersebut. Meski pada akhirnya garapan Yus­ril tersebut akan ke­luar, dari konteks, dan gugatan-gugatan filosofis yang ditututkan Wisran Hadi dalam naskah.

Agak lain memang, meski bukan baru, pemen­tasan Orang-orang Bawah Tanah dikem­balikan lagi pada sesuatu yang ‘asal’ dalam pertunjukan tradi­sional Minangkabau. Pertun­jukan ini oleh sutradaranya dibawa pada situasi yang lebih nyata, dimana interaksi pemain lebih utuh dengan penon­tonnya, seperti ‘randai’ yang bukan randai.

Orang-orang Bawah Tanah seperti dua dunia yang di­bangun atas wacana besar Minangkabau, wacana yang dirasuki berbagai kepen­tingan pribadi atau kelompok, termasuk politik dan cinta. Pertunjukan ini seolah menjadi tantangan bagi pertunjukan teater yang lazim diper­ton­tonkan dalam ruangan, tanta­ngan bagi sutradara, aktor, juru lampu, dan juga penonton.

Tempat pertunjukan Orang-orang Bawah Tanah dihadirkan pada tanah yang sedikit lapang antara mess dan galeri lukisan Taman Budaya Sumatera Barat, yang dulunya merupakan Ge­dung Teater Tertutup. Tempat ini pun diubah menjadi (na­gari) ‘Koto Tingga’, tempat para pelarian politik yang ingin mempertahankan kebudayaan lama tapi pada akhirnya malah menghancurkan kebudayaan itu.

Setumpak tanah keter­wakilan dari pandam paku­buran di bagian belakang panggung pertunjukan. Trap yang membelah ruang seakan garis imajiner, batas antara dunia ‘atas’ dan dunia ‘bawah’. Dua menara bambu dengan orang-orangan sawah dan ben­dera hitam berkibar di atasnya, serta para pemain yang me­makain baju-baju adat seolah memberi ruang bagi penonton untuk menafsir banyak hal.

Orang-orang Ba­wah Tanah semacam sandiwara gelak-tawa kebudayaan antara tokoh Malin, Pakih, Ustad, Puti Serong, dan Siti Canon. San­diwara yang mengikutsertakan pemain dari awal sampai akhir pertunjukan.

Pandam pekuburan Bundo Kanduang menjadi kekuatan yang dibangun, dihancurkan, dan dibangun lagi dalam pe­mentasan ini.

Bagaimana tidak, kuburan Bundo Kanduang dimani­festasikan sebagai kebohongan publik yang dibagun oleh orang-orang yang secara kasar mata mempertahankan kebu­dayaan, tapi di lain sisi mereka ingin menjual kebudayaan tersebut.

Pada pementasan ini Yusril mencoba melakukan proses menafsir lagi estetika lama sembari mencoba mencari bentuk baru dalam melakukan eksplorasi pada ‘tanah’ dimana teater itu di mainkan. Orang-orang Bawah Tanah dijadikan tontonan teater alternatif. “Pementasan ini digarap agar penonton sadar ini sebuah permainan yang juga bukan sekadar permainan,” kata Yusril.

Isu tentang pariwisata dan budaya yang dihadirkan dalam pementasan, sebagaimana para aktor selalu terlihat ingin mendapatkan materi dari kebongan publik yang di­bentuknya, sesuatu yang kini intim dengan kita.

“Budaya untuk kepentingan ekonomi, sementara kebu­dayaan tidak bisa dilihat begitu. Jadi ada sebagian orang yang memperalat kebudayaan untuk kepentingan ekonomi. Saya tidak menyangkal kehadiran Bundo Kanduang dalam pe­men­tasan, tapi yang saya tolak kuburan Bundo Kanduang itu,” tafsir Yusril terhadap perteng­karan antara dua tokoh yang bernama Siti Canon dan Puti Serong yang mengaku ketu­runan sah Bundo Kanduang dan pewaris kuburannya.

Orang-orang Bawah Tanah bisa jadi berhasil memper­tunjukkan naskah Wisran Hadi tersebut melalui interaksi berlanjut dari awal sampai akhir dengan penonton. Ratu­san penonton malam itu pun sibuk dalam wacana yang dibangun, sesekali ‘kecewa’ dengan pembohongan publik, dan berbahagia atas pem­bongakaran isu dalam pe­mentasan.

Penonton malam itu jadi aktor sekaligus, jadi pembuat wacana sekaligus. Meski dalam tafsir yang tidak utuh, pe­mentasan ini jadi perwakilan dari spirit 35 tahun Bumi Teater, spirit 35 tahun ma­nifes semangat berteater yang pernah dibunyikan itu

Tantangan baru, pen­carian dan penemuan jawa­ban, seperti kata Darman Moenir dalam obituari tentang Wisran Hadi, Kamis malam (10/11) mung­kin usaha yang harus disiasati berlanjut. “Membaca naskah, me­nonton pertunjukan Wis­ran Hadi.... kritik-kritik sosial disampaikan dalam cemooh, gurau, plesetan. Wisran Hadi benar-benar sadar akan kekua­tan kata. Dan itu disiasati dengan bacaan, dari permainan tradisi, dari kehidupan masya­rakat menengah kebawah, dari perilaku pe­mang­ku adat dan pejabat...” sebut Darman.

Dan ini tentu sesuatu yang berharga bagi konstelasi pertea­teran di Sumatera Barat. Tidak hanya bagi Gaung Ekspose dengan pertunjukan Gubernur Nyentrik yang bisa dibilang ‘gagal’ dalam menunjukkan totalitasnya, atau komunitas Hitam Putih dalam pementasan Orang-orang Bawah Tanah yang berhasil menyiasati celah bagi penontonnya untuk ikut hibuk dalam sandiawara yang ditulis Wisran Hadi itu.

Spirit 35 tahun dan se­mangat manifes Wisran Hadi bukan hanya milik anak Bumi, bukan cuma milik orang-orang yang pernah berproses di sana, tapi telah jadi milik perteateran Sumatera Barat, Indonesia. Jeda waktu yang panjang memang untuk membuat kebaruan bagi sebagian kelompok teater di Sumatera Barat yang kini layak­nya ‘katak dalam tempu­rung’ dan tidak menghargai proses sebagai bagian dari pencarian berteater itu sendiri. n


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer