Thanks All
Salam Budaya, Salam Kreativitas
http://www.ipam-indonesia.org/programme-schedule.php
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer


Adalah Yusril, S.S, M.Sn, seorang seniman dari Tanah Minang yang merupakan sutradara dari drama musikal tersebut. Keterlibatannya dalam Menjemput Impian berawal dari pertemuannya dengan Silvia Ong, seorang pelatih tari lulusan Program Master Penciptaan Seni Tari Institut Seni Surakarta, pada sebuah festival seni di Bali. Silvia Ong yang juga bertindak sebagai koreografer Menjemput Impian, saat itu melempar wacana mengenai keprihatinannya tentang akar budaya Tionghoa yang mulai terlupakan oleh generasi muda. Ternyata hal tersebut menarik minat Yusril.
“Saya sudah lama tertarik dengan kesenian Cina. Dan ceritanya menarik sekali. Bagi saya naskah ceritanya mirip dengan background saya, Minangkabau, dimana masyarakatnya merantau dan berjuang untuk meraih kesuksesan di tanah rantau,” ungkap Yusril.
Yusril yang berdomisili di Sumatera Barat dan seorang Pembantu Dekan 1 jurusan Teater Institut Seni Padangpanjang ini tidak berkeberatan bolak-balik ke Jakarta selama mempersiapkan pertunjukan Menjemput Impian. Baginya, kesuksesan drama realis musikal pertamanya ini merupakan salah satu pencapaian pribadi yang ingin diraihnya.
Ekspresi Foklore selalu mengikuti arus zaman. “Indonesia Kita” menggubah legenda Malin Kundang asal Minangkabau menjadi Maling Kondang–setia pada Ibu tapi memanipulasi rakyat. Persis seperti pertunjukan Indonesia Kita dalam tema dua tahun terakhir.
Kelas Menengah
‘Tangga’ karya-sutradara Yusril terinspirasi dari puisi Iyut Fitra
dengan judul yang sama yaitu Tangga. Puisi ini secara implisit merupakan
kritik terhadap dualisme kekuasaan di Minangkabau. Dualisme kekuasaan
di Minangkabau dibangun dalam dua kelarasan yaitu Koto Piliang yang
dipelopori oleh Datuk Ketumanggungan dan Bodi Chaniago yang dipelopori
oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang. Kelarasan Koto Piliang memiliki akar
pada Berjenjang naik bertangga turun, suatu sistem pemerintahan yang
menitik dari langit (top down) sebagai wujud sistem kekuasaan
aristokrasi. Sementara, keselarasan Bodi Chaniago memiliki akar pada
Duduk sama rendah tegak sama tinggi, suatu sistem pemerintahan demokrasi
Minangkabau yang lahir dari bawah (bottom up). ![]() |
| ‘BATU’ karya-sutradara Muhammad Hibban Mauludi Hasibuan |
![]() |
| ‘COMPLICATED’ karya Yusril-sutradara Kurniasih Zaitun |
![]() |
| ‘CERAMAH ILMIAH Dr. ANDA’ karya Wisran Hadi-sutradara Deri Shukaik. Aktris : Rakena Anjani Amak |
![]() |
| ‘SI TUPAI JANJANG’, sutradara Edi Satria Mak Itam |
![]() |
| “ORANG-ORANG BAWAH TANAH” karya Wisran Hadi-sutradara Yusril |
![]() |
| ‘DONGENG MANDE DARI BUKIT TUI’ karya-sutradara Tya Setiawati |
![]() |
| “MATAHARI DISEBUAH JALAN KECIL” karya Arifin C Noer-sutradara Fitri Noveri |
![]() |
| ‘KORUPTOR BUDIMAN’ karya NN. Aktor : Andi Jagger |

Jumat-Sabtu, 18-19 Februari 2000, pukul 20.00 WIB
Pentas Teater Hitam Putih, Padang Panjang
"Menunggu"
Karya / Sutradara : Yusril
(Kerja sama dgn CCF Jakarta)
Di Komunitas Utan Kayu (Teater Utan Kayu), Jl. Utan Kayu No. 68H, Jakarta
Timur. Telp. 8573388 / Fax. 8573387
Menunggu
Media massa senantiasa menyuguhkan darah dan air mata. Bahasa tak lagi dapat
dipahami. Namun kita tahu bahwa rakyat dibantai, dicekik, dan dhisap
darahnya. Manusia dirobotkan. Sistem komunikasi mengalami error. Media massa
tak lagi mampu memberitakan apa-apa, kecuali menjadi corong penguasa.
Yusril, dosen teater STSI Padang Panjang yang menjadi sutradara pementasan
ini, menyadari bahwa pada akhirnya teater adalah sebentuk refleksi dari
persoalan yang begitu jamak dan rumit yang ada di sekitar kita. Aktualisasi
di atas pentas yang menghadirkan pelbagai simbol dan karakter, niscaya
berada dalam satu wacana dengan kebebasan manusiadalam arti yang
seluas-luasnya.
Properti tidak hanya berfungsi sebagai setting mati, namun sekaligus
menjelaskan diri mereka sendiri:
teror, sampah, juga tanah pekuburan. Bahasa
tubuh, adegan-adegan akrobatik, menjadikan lakon Menunggu sebagai sistem
semiotik dalam ruang dan waktunya sendiri. Segala elemen estetik terangkum
dlm kesatuan wacana yang tak lagi hanya mencari, melainkan juga memberi dan
diberi makna.
Friday-Saturday, February 18 - 19, 2000
At 20.00pm Indonesian Western Time Zone
Hitam Putih Theatrical Performance, Padang Panjang
"Menunggu" (Longing)
Written/Directed By: Yusril
(In cooporation with CCF Jakarta)
Menunggu (Longing)
The mass media tends to exploit blood and tears. Language can no longer be
understood. However, we know that the people are being slaughtered,
strangled and sucked dried. De-humanization process. Communication system
error. The mass media can no longer report anything, except being the
speaker of the ruling party.
The director of this show, Yusril, a lecturer for theatre in STSI, Padang
Panjang realizes that in the end a theatre is a form of reflection of the
many and complex problems around us. The on-stage actualization presenting
many symbols and characters which will hopefully be at the same meaning as
human freedom in the broadest sense of the word.
Properties will not only function as static settings but will also reflect
themselves: terror, junk, and the cemetery ground. Body language and
acrobatic scenes turn the play into a semiotic system in its own time and
space. All of esthetics elements are included into one media which no longer
only seeks but also gives and receives meanings.
(Indah M.Rafli)
(http://groups.yahoo.com/group/lintaseni/message/91)

“Selamat Datang di Koto Tingga”
Padang Ekspres • Minggu, 13/11/2011 10:30 WIB • Gusriyono, Padang
…. Ada kunjungan. Datang sumbangan. Tidak berbunga. Kalungkanlah!
Kalungkan bunga-bunga….
…. Ada kunjungan. Turun bantuan. Lunak bunganya. Sajikan!
Sajikanlah adat budaya lama….
Selamat datang di Koto Tingga. Welcome….
Malin meneriakkan kata-kata tersebut beberapa kali melalui toa atau pengeras suara yang dipegangnya. Pemberitahuan tersebut sebagai isyarat agar penduduk Koto Tingga, yang tinggal beberapa orang itu, bersiap-bersiap menyambut tamu yang berkunjung dengan tarian sesuai budaya yang mereka pertahankan—dalam hal ini Minangkabau. Muncullah penduduk Koto Tingga yang berprofesi sebagai pedagang, yang menjual berbagai macam produk Koto Tingga termasuk adat dan budaya.
Kemudian, pemusik dengan gandang tamburnya menyajikan musik riang menyambut pengunjung, diiringi penari, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Mereka menarikan budaya lama itu di depan kuburan yang dianggap kuburan Bundo Kanduang. Kuburan itu didirikan di atas tanah yang disewa secara kredit kepada Panglimo.
Adalah 7 orang pelarian revolusi, Malin (Afrizal Harun), Ustad (Dedi Darmadi), Pakih (Anggi Hadi Kesuma), Katik (Syafriandi Afridil), Siti Cannon (Ayuning Saputri), Puti Xerox (Elsa Novri Asminda), dan Gadih (Winda Sesmita). Mereka menetap dan mempertahankan budaya lama di Koto Tingga, sebagai tameng persembunyian.
Kemudian, masing-masing menganggap diri pahlawan kebudayaan, yang mempertahankan adat dan pusaka lama itu, sembari menjualnya kepada para pengunjung. Termasuk memperkelam sejarah, melalui kuburan Bundo Kanduang dan ahli warisnya, seperti perebutan pemimpin upacara adat antara Puti Xerox dengan Siti Cannon.
Berbagai kejadian lengkap beserta konfliknya tersaji dengan renyah dan penuh olok-olok di lapangan terbuka yang dijadikan Koto Tingga itu. Sebagaimana naskah itu ditulis oleh Wisran Hadi—pun naskah-naskahnya yang lain—berisi kritikan terhadap adat dan budaya lama dengan gaya bercemooh atau olok-olok yang satir.
Menariknya, pementasan naskah Orang-Orang Bawah Tanah yang disutradarai Yusril dan diproduksi Komunitas Hitam Putih ini memilih pakaian adat Minangkabau sebagai kostum pemain. Sesuatu yang sudah sangat jarang ditemukan dalam pementasan teater atau sandiwara sekali pun di zaman sekarang.
Pilihan pakaian adat ini akan mengingatkan penonton pada pementasan sandiwara pada tahun-tahun 1980an atau sebelumnya. Untung saja, Yusril tidak menggunakan layar yang buka-tutup setiap pergantian adegan. Kalau iya, klop deh, jadulnya…. Serasa berada di tahun-tahun Yusril muda, barangkali. Hehe…
Diakui Yusril, pilihan kostum tersebut sebagai upaya memberikan tontonan alternatif bagi penonton terutama kalangan generasi muda. Bahkan, katanya, ketika dipentaskan di teater arena ISI Padangpanjang, beberapa penonton terharu, melihat masih ada yang memakai pakaian adat dalam pertunjukan teater.
Kemudian, pilihan lain yang diambil Yusril, mendekatkan pemain dan permainan ke penonton dengan pentas di lapangan terbuka. Seperti yang dilakukan pada Jumat (11/11) malam.
Di tanah lapang bekas reruntuhan Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Sumbar, Orang-Orang Bawah Tanah dipentaskan Yusril dengan penonton yang duduk lesehan di karpet. Sesekali, terjadi interaksi antara pemain dan penonton. Melalui cara ini, Yusril ingin menunjukkan teater bisa pentas dan hadir di mana saja. Tidak mesti di gedung pertunjukan. Ia bisa hadir di pasar, di mall, di lapangan bola, dan ruang-ruang publik lainnya.
Hanya saja, diakui Yusril, pementasan di lapangan terbuka malam itu sedikit luput dari perhitungan distorsi bunyi atau suara. Tidak seperti pementasan sebelumnya di ISI Padangpanjang yang berada dalam gedung teater arena, pementasan di lapangan terbuka Taman Budaya diwarnai dengan bunyi mesin kendaraan, seperti mobil dan sepeda motor hingga pesawat, suara-suara orang latihan menyanyi dan musik, dan sebagainya. Jadilah Koto Tingga, seperti kota yang riuh.
Termasuk juga, perhitungan bloking pemain, yang membuat letih karena jarak yang terlalu jauh. Lapangan terbuka yang lebih luas panggung teater arena telah menguras stamina pemain. Mungkin, resiko ini perlu juga dipertimbangkan di masa datang.
Naskah Orang-Orang Bawah Tanah ini dipilih Yusril, karena mengetahui proses penulisan naskah tersebut, mulai dari ide sampai observasi yang dilakukan oleh Wisran Hadi. Kemudian, sekitar 20 tahun lalu, Yusril juga membawa berkeliling pementasan naskah ini. Dengan konsep yang berbeda dari pementasan sekarang.
Ketika itu, naskah ini dimainkan dengan konsep realis di atas panggung gedung pertunjukan. Kuburan Bundo Kanduang dihadirkan berbentuk kuburan sebenarnya, tidak seperti pementasan kali ini, yang hanya disimbolkan dengan bentangan kain merah persegi panjang. Serta berbagai perbedaan lainnya.
Penulisan naskah ini, menurut Yusril, ketika pemerintah menggalakkan program Visit Indonesian Year 1990. Ketika itu, seperti juga sekarang, pemerintah kasak-kasuk ingin melestarikan kebudayaan daerah untuk dijual kepada para pengunjung atau wisatawan, sebagai penambah devisa bagi Negara.
Maka, muncullah orang-orang yang menganggap diri pahlawan pelestari kebudayaan dengan berbagai atributnya. Fenomena inilah yang bertahun-tahun silam dikritik oleh Wisran Hadi melalui naskah dramanya tersebut. Termasuk juga persoalan-persoalan sejarah dan mitos yang dipercayai masyarakat, yang sengaja digadang-gadang untuk mengembangkan pariwisata.
Begitulah, orang-orang mulai meninggalkan Koto Tingga satu persatu. Hingga menjadi negeri yang ditinggalkan dan tertinggal. Tidak ada lagi ucapan selamat datang atau welcome. (*)Padang Ekspres • Sabtu, 12/11/2011 15:12 WIB • S Metron M & Gusriyono
Memperingati 35 Tahun Bumi dan In Memoriam Wisran Hadi (berbentuk parade teater) terus berlanjut. Untuk 35 Tahun Bumi ditutup dengan pementasan Orang-orang Bawah Tanah (OBT) kemarin malam. Sedangkan untuk parade teater, Matrilini akan jadi pembuka malam ini di Teater Utama Taman Budaya Sumbar.
OBT berkisah tentang tujuh orang yang melarikan diri akibat dikejar-kejar ke Kototingga. Mereka menyamar jadi pemandu turis-turis yang datang melihat kuburan Bundo Kanduang. Padahal, di bawah kuburan itu tersimpan dokumen-dokumen penting partai terlarang.
Yusril sebagai sutradara pementasan membawa 36 personel untuk mementaskannya. Dosen ISI Padangpanjang yang terkenal dengan eksperimentasi tubuh ini keluar dari konvensi yang dianutnya. “Kali ini saya taat naskah,” katanya saat ditemui di ruang bulek Chairil Anwar Taman Budaya kemarin.
Selain menghormati naskah, Yusril ingin kembali bernostalgia.
Sebab, OBT termasuk naskah yang sering dibawakannya. Saat kuliah di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Unand, Yusril dua kali mementaskannya.
Yusril memilih bekas gedung teater tertutup sebagai lokasi pementasan. OBT memang naskah yang fleksibel. Bisa dimainkan di dalam dan luar gedung. Di bekas reruntuhan itu, Yusril menset panggung dengan bentuk arena. Artinya, penonton melingkari pertunjukan. Ini tentu ciri khas randai.
Pemain juga fleksibel. Karena dekat dengan penonton, saat tidak berperan aktor berbaur dengan penonton. Ada yang minum atau merokok. “Teman-teman (pemain, red) akan berhasil memainkannya. Mereka enjoy,” katanya sebelum pertunjukan.
Sebelum OBT, dari pagi digelar seminar pendidikan karakter. Temanya cukup menarik; Sanggar Teater, Satu Metode Pendidikan Karakter. Pembicaranya Burhasman Boer dari Dinas Pariwisata Sumbar, Riri Amalas Yulita (Aktor Bumi) dan Dhanny Moer (alumnus IKJ).
Di sesi pagi, dua nama pertama menjadi pembicara. Riri melihat kepemimpinan (leadership) Wisran Hadi saat proses pertunjukan teater. Pak Wis (begitu Riri memanggil) mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap diri pemain. “Uniknya, cara itu dilakukan tanpa disadari Anak Bumi (aktor, red),” ujarnya.
Meski menjadi role model, Pak Wis tidak menjadikan kepemimpinannya dalam bentuk turunan. Dia menjalankan atau mengatur setiap anak Bumi mau memberi koreksi kepada temannya dengan “tubo dosis tinggi”. Tubo inilah, perlahan membentuk sikap hidup dari anak Bumi yang kemudian menjadikan mereka “sesuatu” di kemudian hari.
Pembentukan karakter di Bumi, dilakukan dengan bahasa yang sederhana sampai yang rumit. Pemain pun dengan senang hati “menelannya”. Namun, Pak Wis juga sadar, pembentukan karakter tidak akan selasai sehari dua. Pak Wis ikut dan menikmati proses itu sampai karakter itu mengkristal dengan sendirinya.
Ada empat karakter kuat yang selalu ditanamkan Pak Wis, tulis Riri. Pertama, kecerdasan. Lalu kejujuran, ketangguhan dan terakhir, kepedulian.
Diskusi yang dimoderatori Zirmayanto (Anak Bumi), belangsung menarik. Guru-guru yang hadir mulai mempertanyakan praksis dari sanggar teater. “Tanya ke kepala Taman Budaya,” ujar Burhasman.
Di sesi kedua, hal teknis ini yang dibahas. Dhanny dengan lancar menjelaskan proses teater yang ada. Anak Solok itu menceritakan bagaimana proses sebuah teater. Dalam sesi ini, Dhanny langsung mempraktikkan beberapa bagian dasar teater. Peserta diajak untuk berinteraksi. Seperti latihan vokal. Peserta pun diajak melafazkan aiueo dengan beragam gaya, bahkan sampai bernyanyi.
Tampil Habis-habisan
Sementara itu, Teater Sakata yang tampil di malam pertama berjanji akan tampil habis-habisan. Sabtu pagi mereka sudah sampai di Taman Budaya untuk penyesuaian pentas. Teater Utama akan menjadi panggung parade teater sampai 16 November mendatang, Enrico Alamo sebagai manajer panggung mengaku membawa 25 personel untuk pementasan kali ini.
Naskah Matrilini, seperti kebanyakan drama Pak Wis, bercerita tentang benturan adat. Apakah yang mesti diikuti lebih dulu, agama atau adat? Kehidupan Minangkabau yang berada di antara adat dan agama, tentu tidak selamanya selaras.
Percikan benturan ini yang digarap oleh Pak Wis . Dialog-dialognya menggelitik dan merangsang pikiran. Apabila dibawakan dengan pas, maka syaraf tawa akan terpantik.
JiFFest Traveling adalah program pemutaran film-film lokal dan internasional, fiksi maupun dokumenter, yang pernah diputar di JiFFest ke berbagai kota di Indonesia selain Jakarta. Di tahun 2010 ini, JiFFest Traveling mengunjungi para pecinta film di kota Medan (7-9 Mei), Padang (14-16 Mei), Malang (21-22 Mei), Solo (28-30 Mei), Banjarmasin (4-6 Juni) dan Makassar (11-13 Juni).

dua kelompok teater yang menasbihkan dirinya sangat dekat dengan sosok almarhum teaterawan Wisran Hadi, menyuguhkan pementasan teater dalam helat 35 Tahun Bumi. Masing-masing mengusung bentuk garapan yang berbeda.
Gaung Eskpose Padang mengangkat naskah—yang tak jelas maksudnya, mengapa bukan karya Wisran Hadi—Gubernur Nyentrik dipentaskan prosenium. Kelompok seni Hitam Putih membawakan karya Wisran Hadi, Orang-orang Bawah Tanah yang ditampilkan di luar pentas atau di lapangan terbuka.
Kedua orang yang menyutradarai pertunjukan teater itu: Armeynd Sufhasril dan Yusril, bukan anak kemarin sore dalam jagat teater Sumatera Barat. Keduanya—kendati beda usia— sudah bertungkus lumus bersama Bumi Teater, tapi, sayang sekali, kedua garapan yang disuguhkan seperti menjauh dari apa yang pernah dihasilkan Bumi Teater selama ini. Dua pementasan yang menjadi antiklimaks. Menurun dari dari berbabagai aspek.
Tiga puluh lima tahun silam, sekitar Januari 1976, saat proses latihan teater berjudul Gaung dengan naskah dan sutradara Wisran Hadi, semacam manifes dinyatakan untuk penanda kehadiran Bumi Teater.
“...Teater kami adalah teater yang berpijak dan tumbuh di bumi. Tidak ada alasan sedikit pun buat kami mencari bumi yang lain untuk kami bertolak. Pertanggungan jawab dari corak dan gaya penyampaian serta sikap, adalah pada Allah SWT. Karena kami percaya bahwa bumi tempat kami berpijak adalah bumi yang dititipkan Allah SWT pada kami.”
Manifes ini bukan sekadar kalimat basa-basi pelengkap kehadiran Bumi Teater. Manifes ini merupakan gejolak keprihatinan atas gelombang ‘kematian’ kesenian Sumatera Barat, khususnya teater pada saat itu. Di mana Sumatera Barat tidak tampak dalam peta perteateran di Indonesia. Di mana ruang, seperti Taman Ismail Marzuki (TIM), ruang kebanggaan kesenian yang di bangun di pusat negeri ini (Jakarta) seolah tak terjangkau oleh penggiat teater Sumatera Barat. Tak terjangkau, atau bisa jadi pada saat itu, tak ada kemampuan untuk menjangkau.
Sejak manifes itu, Bumi Teater, Sastra, dan Seni Rupa dengan ujung tombaknya Wisran Hadi berusaha masuk dalam ruang-ruang yang belum terjangkau. Wisran Hadi, secara personal atau atas nama Bumi telah menjadi catatan penting dalam konstelasi perteateran Indonesia.
Setidaknya, sudah sekitar 50 pementasan teater yang dihadirkan, dari pementasan pertama (Gaung, 1976) sampai pementasan paling akhir (Wayang Padang, 2006). Puluhan naskah karya Wisran Hadi pun menjadi tolok ukur, menjadi perbincangan berbagai pihak, atas muatan-muatan yang dikandungnya. Naskah yang sebagian besar menjadi jawara di ajang-ajang perlombaan naskah bergengsi di Indonesia.
Tapi sejak meninggalnya Wisran Hadi be-berapa bulan silam, sejak Bumi Teater kali terakhir mementaskan pertunjukannya, apakah manifes atau spirit teater moderen yang dihadirkan Wisran Hadi diserap oleh para teaterawan atau kelompok teater di Sumatera Barat sebagai suatu kebaruan yang patut terus dieksplorasi?
Dan pembukaan peringatan 35 Tahun Bumi dan In Memoriam Wisran Hadi di Taman Budaya Sumatera Barat adalah pembuktian. Dari tanggal 9-11 November, tiga kegiatan digelar, yakni pementasan teater oleh grup Gaung Ekspose berjudul Gubernur Nyentrik (karya Agustan T Syam) sutradara Armeynd Sufhasril, Temu Anak Bumi Teater dengan pembacaan obituari Wisran Hadi oleh Darman Moenir, serta pementasan teater berjudul Orang-orang Bawah Tanah (karya Wisran Hadi) oleh kelompok seni Hitam Putih dengan sutradara Yusril. Tiga tajuk acara yang bisa jadi adalah penggambaran dari spirit 35 tahun Bumi, penggambaran sejauh mana manifes yang dipatrikan puluhan tahun silam itu diterima dan dieksplorasi terus menerus oleh para teaterawan di Sumatera Barat.
Tiga tajuk acara yang diisi oleh orang-orang yang pernah berproses panjang di Bumi Teater atau berdekatan secara emosional dengan Wisran Hadi. Tiga tajuk acara membuka sembilan pertunjukan lain, akan beruturut-turut dalam sepekan, pertunjukan yang akan membuka celah-celah wacana dalam naskah yang pernah dibuat Wisran Hadi.
Gaung Berusaha “Nyentrik”
Kelompok Teater Gaung Ekspose, mempertunjukkan “Gubernur Nyentrik” di Teater Utama Sumatera Barat (9/11) malam. Dengan naskah yang ditulis Agustan T Syam tersebut Armeynd Sufhasril berusaha menghadirkan (ulang) persoalan ‘korupsi’ yang sudah sering dibahas dalam berita televisi. Beberapa pemain di dalam pertunjukan tersebut, sebagian besar sudah pemain lama, sudah pernah ikut berproses di Bumi Teater. Akan tetapi pertunjukan malam itu terasa tidak memberikan kontribusi penting dalam penanda angka ’35 tahun’.
Secara menyeluruh pementasan tersebut berusaha memparodikan kegiatan harian seorang gubernur dengan istri, ajudan, dan orang-orang yang berdekatan dengan lingkarannya. Parodi yang hampir sama pembawaannya dengan cara grup “Teater Keliling” Rudolf Puspa mementaskan. Entah mana yang menyalin?
Sepanjang permainan terkadang tampak totalitas proses berteater dihancurkan secara tiba-tiba, entah kenapa, meski di beberapa sisi ada ‘aktor’, ada ‘properti’ ada keinginan untuk membangun totalitas tersebut.
“Apakah ini pertunjukan teater atau show musik dengan tema lagu-lagu Iwan Fals dan Slank sebagai penguat bahwa malam ini ada gugatan atas pemerintahan korup?”
Penonton yang terbiasa menonton pertunjukan teater ‘pintar’ tentu akan mempertanyakan hal tersebut. Tapi tentu mereka yang senang dengan kelucuan banal seperti tayangan di televisi akan bertepuk tangan dan girang.
Bisa jadi kegagalan ini disebabkan Gaung Ekspose memainkan naskah yang tidak pas dengan karakter mereka yang selama ini mereka tunjukkan? Pertanyaan yang akan dijawab bersama. Pertanyaan yang pastinya akan dikembalikan pada spirit angka ‘35’ tersebut—meski Gaung Ekspose bukan Bumi Teater, tapi sebagian pemainnya pernah berproses dengan Wisran Hadi, angka ’35’ tersebut merupakan beban moral yang mesti ditanggung.
Kembali pada Pijakan
Istilah ‘kembali pada pijakan’ akan jadi perwakilan bagi pertunjukan komunitas seni Hitam Putih dari Padang Panjang yang mementaskan Orang-orang Bawah Tanah, Jumat (11/11) malam. Yusril, selaku sutradara pementasan tersebut berusaha masuk pada celah yang diberi dalam naskah Wsiran Hadi tersebut. Meski pada akhirnya garapan Yusril tersebut akan keluar, dari konteks, dan gugatan-gugatan filosofis yang ditututkan Wisran Hadi dalam naskah.
Agak lain memang, meski bukan baru, pementasan Orang-orang Bawah Tanah dikembalikan lagi pada sesuatu yang ‘asal’ dalam pertunjukan tradisional Minangkabau. Pertunjukan ini oleh sutradaranya dibawa pada situasi yang lebih nyata, dimana interaksi pemain lebih utuh dengan penontonnya, seperti ‘randai’ yang bukan randai.
Orang-orang Bawah Tanah seperti dua dunia yang dibangun atas wacana besar Minangkabau, wacana yang dirasuki berbagai kepentingan pribadi atau kelompok, termasuk politik dan cinta. Pertunjukan ini seolah menjadi tantangan bagi pertunjukan teater yang lazim dipertontonkan dalam ruangan, tantangan bagi sutradara, aktor, juru lampu, dan juga penonton.
Tempat pertunjukan Orang-orang Bawah Tanah dihadirkan pada tanah yang sedikit lapang antara mess dan galeri lukisan Taman Budaya Sumatera Barat, yang dulunya merupakan Gedung Teater Tertutup. Tempat ini pun diubah menjadi (nagari) ‘Koto Tingga’, tempat para pelarian politik yang ingin mempertahankan kebudayaan lama tapi pada akhirnya malah menghancurkan kebudayaan itu.
Setumpak tanah keterwakilan dari pandam pakuburan di bagian belakang panggung pertunjukan. Trap yang membelah ruang seakan garis imajiner, batas antara dunia ‘atas’ dan dunia ‘bawah’. Dua menara bambu dengan orang-orangan sawah dan bendera hitam berkibar di atasnya, serta para pemain yang memakain baju-baju adat seolah memberi ruang bagi penonton untuk menafsir banyak hal.
Orang-orang Bawah Tanah semacam sandiwara gelak-tawa kebudayaan antara tokoh Malin, Pakih, Ustad, Puti Serong, dan Siti Canon. Sandiwara yang mengikutsertakan pemain dari awal sampai akhir pertunjukan.
Pandam pekuburan Bundo Kanduang menjadi kekuatan yang dibangun, dihancurkan, dan dibangun lagi dalam pementasan ini.
Bagaimana tidak, kuburan Bundo Kanduang dimanifestasikan sebagai kebohongan publik yang dibagun oleh orang-orang yang secara kasar mata mempertahankan kebudayaan, tapi di lain sisi mereka ingin menjual kebudayaan tersebut.
Pada pementasan ini Yusril mencoba melakukan proses menafsir lagi estetika lama sembari mencoba mencari bentuk baru dalam melakukan eksplorasi pada ‘tanah’ dimana teater itu di mainkan. Orang-orang Bawah Tanah dijadikan tontonan teater alternatif. “Pementasan ini digarap agar penonton sadar ini sebuah permainan yang juga bukan sekadar permainan,” kata Yusril.
Isu tentang pariwisata dan budaya yang dihadirkan dalam pementasan, sebagaimana para aktor selalu terlihat ingin mendapatkan materi dari kebongan publik yang dibentuknya, sesuatu yang kini intim dengan kita.
“Budaya untuk kepentingan ekonomi, sementara kebudayaan tidak bisa dilihat begitu. Jadi ada sebagian orang yang memperalat kebudayaan untuk kepentingan ekonomi. Saya tidak menyangkal kehadiran Bundo Kanduang dalam pementasan, tapi yang saya tolak kuburan Bundo Kanduang itu,” tafsir Yusril terhadap pertengkaran antara dua tokoh yang bernama Siti Canon dan Puti Serong yang mengaku keturunan sah Bundo Kanduang dan pewaris kuburannya.
Orang-orang Bawah Tanah bisa jadi berhasil mempertunjukkan naskah Wisran Hadi tersebut melalui interaksi berlanjut dari awal sampai akhir dengan penonton. Ratusan penonton malam itu pun sibuk dalam wacana yang dibangun, sesekali ‘kecewa’ dengan pembohongan publik, dan berbahagia atas pembongakaran isu dalam pementasan.
Penonton malam itu jadi aktor sekaligus, jadi pembuat wacana sekaligus. Meski dalam tafsir yang tidak utuh, pementasan ini jadi perwakilan dari spirit 35 tahun Bumi Teater, spirit 35 tahun manifes semangat berteater yang pernah dibunyikan itu
Tantangan baru, pencarian dan penemuan jawaban, seperti kata Darman Moenir dalam obituari tentang Wisran Hadi, Kamis malam (10/11) mungkin usaha yang harus disiasati berlanjut. “Membaca naskah, menonton pertunjukan Wisran Hadi.... kritik-kritik sosial disampaikan dalam cemooh, gurau, plesetan. Wisran Hadi benar-benar sadar akan kekuatan kata. Dan itu disiasati dengan bacaan, dari permainan tradisi, dari kehidupan masyarakat menengah kebawah, dari perilaku pemangku adat dan pejabat...” sebut Darman.
Dan ini tentu sesuatu yang berharga bagi konstelasi perteateran di Sumatera Barat. Tidak hanya bagi Gaung Ekspose dengan pertunjukan Gubernur Nyentrik yang bisa dibilang ‘gagal’ dalam menunjukkan totalitasnya, atau komunitas Hitam Putih dalam pementasan Orang-orang Bawah Tanah yang berhasil menyiasati celah bagi penontonnya untuk ikut hibuk dalam sandiawara yang ditulis Wisran Hadi itu.
Spirit 35 tahun dan semangat manifes Wisran Hadi bukan hanya milik anak Bumi, bukan cuma milik orang-orang yang pernah berproses di sana, tapi telah jadi milik perteateran Sumatera Barat, Indonesia. Jeda waktu yang panjang memang untuk membuat kebaruan bagi sebagian kelompok teater di Sumatera Barat yang kini layaknya ‘katak dalam tempurung’ dan tidak menghargai proses sebagai bagian dari pencarian berteater itu sendiri. n
Untuk kenyamanan para sahabat teater, perlu kami informasikan bahwa blog komunitas seni HITAM-PUTIH di bawah ini tidak aktif dan tidak digunakan lagi. Blog tersebut adalah :
http://komunitassenihitam-putih.blogspot.com/
http://komunitasseni-hitam-putih.blogspot.com/
http://teaterhitamputih.wordpress.com/
http://komunitassenihitamputih.blogspot.com/
http://komunitashitamputih.blogspot.com/
Para sahabat teater dapat melihat aktivitas kami melalui blog di bawah ini:
http://komunitas-seni-hitam-putih.blogspot.com/