FESTIVAL MONOLOG KENTHOET ROEJITO

Minggu, 03 Februari 2013


Komunitas Tanggul Budaya (KTB) merupakan sebuah komunitas yang bersusah sungguh menahan arus deras kebudayaan dengan metode, cara dan kerangka berpikir ala (KTB) sendiri. Berbagai persoalan kebudayaan menjadi bahan pemikiran dan obrolan yang coba kami angkat ke dalam diskusi-diskusi di malammalam sunyi kami.
Sebuah kata “monolog” coba kami bidik dalam nada dasar diskusi di suatu malam. Berbagai pertanyaan muncul, antara lain: kenapa tidak muncul actor maupun aktris muda yang mempunyai kapasitas aktor/aktris menasional di negeri ini? Siapakah aktor/aktris itu? Apakah perlu Komunitas Tanggul Budaya (KTB) menjadi wadah memunculkan aktor/aktris itu? Apakah perlu (KTB) menjadi jembatan ajang silaturahmi antarteater se-Nusantara? Berbagai hal yang bermacam ragam muncul dalam diskusi malam itu, persoalan yang barangkali menjadi pikiran dan persoalan dari kantong-kantong kesenian Anda pula?
 Kenapa harus monolog? Yha, persoalan itu kami jawab secara singkat seperti ini, kami beranggapan bahwa monolog menjadi pilihan paling efektif dari laku peristiwa teatrikal, baik secara kuantitas maupun kekuatan aktor/aktris dalam pertunjukan pementasannya. Dari berbagai persoalan itulah, kami mencoba memberi ruang dan wadah silaturahmi bagi para praktisi monolog maupun kelompok teater se-Nusantara untuk mementaskan naskah-naskah lakon monolognya di tempat kami. Dan menyambungkan berbagai simpul jejaring komunitas teater se- Nusantara dan menjawab berbagai pertanyaan tentang kegelisahan even yang tidak hanya sebagai ajang proyek tetapi menjadi persinggungan ide lintas generasi.
Kemunculan niatan ini akan membuat ruang pertemuan antarkelompok teater di tiap-tiap daerah. Akhirnya ketika konsep ini kami tawarkan kepada para seniman teater, Butet Kertarajasa menyambut baik, sekaligus memberikan subsidi bagi terlaksananya even ini. Beberapa seniman yang akan terlibat dengan peristiwa monolog ini, antara lain sebagai berikut.
  • Ki Slamet Gundono (Dalang wayang suket dari Surakarta) sebagai Juri.
  • Wahyu Cunong (Kelompok tari Sahita dari Surakarta) sebagai Juri.
  • Yusril Katil (Teater Hitam Putih, Padang Panjang) sebagai Juri.
  • Yanusa (Teater Tetas, Jakarta) sebagai komentator.
  • Shinta Febriany (Teater KALA, Makasar) sebagai komentator.
  • Dody Yan Masfa (Teater Tobong, Surabaya) sebagai komentator.
  • Abuy Asmarandana (Yogyakarta) sebagai komentator.
  • Irwan Jamal (Teater Pictorial, Bandung) sebagai komentator dan penutup acara
  • Toni Broer (Bandung) sebagai pemberi workshop.
  • Helmi Prasetyo (Teater Ruang Surakarta) pemberi workshop.
  • Joko Bibit Santosa (Teater Ruang, Surakarta) tokoh di balik layar
  • Butet Kertarajasa (Seniman, Yogyakarta) sebagai pemberi infak budaya dan inspektur Upacara Bendera ala teater dalam pada pembukaan workshop Fesmon Kenthoet Roejito.
  • Seniman-seniman teater muda se-Nusantara.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Menjemput Impian bagi Sang Sutradara



Selama tiga hari berturut-turut, pada tanggal 3-5 Agustus 2012 lalu, drama musikal Menjemput Impian sukses dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mengusung konsep perpaduan seni peran, seni tari, dan stop motion, drama yang mengisahkan asimilasi budaya Tionghoa dan Indonesia ini mendapatkan respon positif dari masyarakat. Ribuan tiket terjual habis seiring dengan wajah-wajah penonton yang puas terhibur seusai menyaksikan pementasan.

Adalah Yusril, S.S, M.Sn, seorang seniman dari Tanah Minang yang merupakan sutradara dari drama musikal tersebut. Keterlibatannya dalam Menjemput Impian berawal dari pertemuannya dengan Silvia Ong, seorang pelatih tari lulusan Program Master Penciptaan Seni Tari Institut Seni Surakarta, pada sebuah festival seni di Bali. Silvia Ong yang juga bertindak sebagai koreografer Menjemput Impian, saat itu melempar wacana mengenai keprihatinannya tentang akar budaya Tionghoa yang mulai terlupakan oleh generasi muda. Ternyata hal tersebut menarik minat Yusril.

“Saya sudah lama tertarik dengan kesenian Cina. Dan ceritanya menarik sekali. Bagi saya naskah ceritanya mirip dengan background saya, Minangkabau, dimana masyarakatnya merantau dan berjuang untuk meraih kesuksesan di tanah rantau,” ungkap Yusril.

Menjemput Impian adalah pementasan drama bergaya realis pertama Yusril. Sebelumnya, karya-karya Yusril bersifat eksperimental seperti Tangga (2008), Aksioma (2005), dan Indonesia Darahku Tumpah (2004). Mengenai hal tersebut, Yusril berujar, “Saya penasaran dengan pertunjukan musikal yang berpihak pada penonton, setelah karya-karya saya sebelumnya bisa dikatakan merupakan pertunjukan yang tidak berpihak pada penonton.”

Yusril yang berdomisili di Sumatera Barat dan seorang Pembantu Dekan 1 jurusan Teater Institut Seni Padangpanjang ini tidak berkeberatan bolak-balik ke Jakarta selama mempersiapkan pertunjukan Menjemput Impian. Baginya, kesuksesan drama realis musikal pertamanya ini merupakan salah satu pencapaian pribadi yang ingin diraihnya.

“Saya ingin tahu mengapa drama musikal semacam ini seringkali sukses di kota besar. Saya merasa tertantang. Melalui Menjemput Impian, kesimpulan saya adalah ternyata masyarakat kota besar sebenarnya butuh hiburan alternatif yang memang menghibur, setelah kesehariannya hanya dihibur dengan TV, dan lain-lain,” jelas Yusril.

Drama musikal Menjemput Impian yang berdurasi 2,5 jam ini dimainkan oleh para penari yang belum berpengalaman samasekali dalam dunia teater. Sejak di awal persiapan, hal tersebut bukan menjadi masalah bagi Yusril. “Semua orang bisa bermain drama realis. Saya percaya itu. Tidak ada kendala berarti mengenai kemampuan seni peran mereka. Saya malah merasa tertantang dan senang, bahwa ada orang-orang yang tidak hidup di dunia kesenian, namun tertarik dan berani untuk berkesenian,” tutup pria gondrong yang ramah tersebut. (Rike)

Sumber Internet: http://tourismnews.co.id/category/art-culture/menjemput-impian-bagi-sang-sutradara


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Foklore, Isu Korupsi Dan Penonton Kelas Menengah

Ekspresi Foklore selalu mengikuti arus zaman. “Indonesia Kita” menggubah legenda Malin Kundang asal Minangkabau menjadi Maling Kondangsetia pada Ibu tapi memanipulasi rakyat. Persis seperti pertunjukan Indonesia Kita dalam tema dua tahun terakhir.

Pertunjukan Indonesia Kita kali ini lebih terasa “lain” setelah merunut program Indonesia Kita yang telah memasuki penyelenggaraan tahun kedua. Isu korupsi selalu menjadi tema besar, dalam setiap penyelenggaraan pertunjukan yang didapuk Trio kakak adik: Butet Kartaredjasa, Agus Noor dan Djaduk Ferianto. Sejauh ini, selain Teater Koma yang juga mempunyai kekerabatan yang lekat dalam komunal kekeluargaan untuk memanajemen pertunjukan dan cenderung sukses dengan tolak ukur riuhnya penonton dan respon sponsor yang besar.
Masyarakat kelas menengah penonton Jakarta–dilihat dari tingkat profesi, pendidikan dan menyukai pertunjukan Indonesia karena kemasan pertunjukan ini memenuhi manajemen yang profesional dengan elemen menyajikan: 

Pertama, penampil yang notabene selebritis untuk menarik massa penonton, dikombain dengan pekerja teater idealis yang cukup mengetahui “kemapanan estetika panggung”. Antara rasa entertain dan pakem-pakem panggung cukup melebur.

Kedua: Isu kekinian yang sedang up-to-date, terutama menyoal political nationality yang sedang menjadi obrolan hangat dan menjadi headline di media. Selain itu, di Jakarta, beberapa seniman dan acara, menjadi besar karena “penggorengan media”. Ada yang memang layak karena menampilkan gagasan baru dan menarik.

Ketiga: Indonesia Kita perlu diakui memiliki tim produksi yang mampu menarik sponsor besar. Bersedia untuk membiayai, baik dari perusahaan swasta maupun birokrasi pemerintah.

Keempat, Indonesia kita cukup mampu mengkombain tradisi-foklore, legenda,mitos dan tokoh fiksi yang dikenal pada sebagian besar masyarakat seperti Kabayan dikemas dengan bentuk modern. Baik yang berbentuk broadway pada Putri Embun dan Pangeran Bintang dari Kelompok Teater Garasi, maupun pertunjukan yang baru-baru saja dipertunjukan “Maling Kondang” sutradara Yusril yang dikenal sebagai sutradara Komunitas Seni-Hitam Putih dari Padang Panjang, Sumatera Barat.Penonton

Kelas Menengah

Hampir seluruh pertunjukan dalam Karya hasil Indonesia Kita memang menjadi daya tarik yang ditunggu penonton kelas menengah Jakarta. Diantara mobilitas sehari-hari di Jakarta yang membuat manusia menjadi mekanis dengan pekerjaan dan kesibukan. Masyarakat Jakarta membutuhkan panggung yang menghibur. Sesuai dengan tagline “Memandang Indonesia Secara Jenaka”. Indonesia Kita menampilkan sisi elegan yang kocak dengan bumbu tradisi berbalut nasionalisme.

Empat parameter untuk menakar pertunjukan-pertunjukan Indonesia Kita di atas, memang tak sepenuhnya relevan. Teater sebagai seni pertunjukan dipandang sebagai unsur yang kompleks dan berubah sesuai dengan ruang dan waktu, termasuk pada kalangan penonton. Pengamat seni pertunjukan, Seno Joko Suyono, dalam tulisannya tentang “Bedaya Silikon” mengungkapkan, meriahnya respon penonton bukan parameter untuk menakar kualitas pertunjukan malam itu. Sebab sering penonton GBB (Graha Bhakti Budaya) lebih bereaksi spontan terhadap hal-hal komunikatif yang langsung bisa tertangkap. Tepuk tangan tidak menjadi idealisisasi untuk menakar kualitas petunjukan.Di perkotaan, khususnya Jakarta, menururt Sri, penonton akan berdoyong-doyong menonton jika ada strategi khusus yang dilakukan kelompok atau lembaga teater tersebut dari reputasi aktor dan teaternya yang dikenal berkualitas.  Pertunjukan “Maling Kondang” menampilkan Nirina Zubir, Oppie Andaresta, politikus Effendi Gozali dan beberapa sosok entertain yang cukup dikenal publik. Hari pertama dan kedua petunjukan, cukup memenuhi Graha Bhakti Budaya yang memiliki kapasitas penonton ratusan. Indonesia Kita memiliki manajemen strategi panggung yang nyaris ideal untuk menarik kebutuhan menonton Teater.

Transformasi Foklore Ke Panggung Modern

Malin Kundang termasuk pada Foklore jenis legenda setempat yang turun antar generasi dan dianggap oleh yang punya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Minangkabau yang menarik garis matrineal dari pihak Ibu mungkin cukup berpotensi besar untuk mengingatkan generasi muda selankutnya dalam sikap dan budi pekerti pada Ibu.

Tim kreatif Indonesia Kita mengambil esensinya, jika seorang pemimpin punya kesalahan, sebagai orang yang berkuasa, maka kesalahan orang yang berkuasa ini akan mencelakakan semuanya. Inilah yang relevan di negeri ini, kisah malin kundang berkembang, dihubungkan dengan situasi saat ini.

Sebagai pertunjukan tragedi satir dengan berusaha mengungkapkan bagaimana bila di situasi2, konteks seperti sekarang dilakukan oleh orang-orang yang besar-pengusaha besar, partai besar. Maling Kondang memberikan kesan, bila yang kita teladani (pemimpin) justru yang membawa masalah.

Masyarakat Minang memiliki tradisi yang kuat tercermin pada kesenian randai, selain tari piring yang juga tampil di Maling Kondang. Dalam randai ada 4 unsur yang tidak boleh hilang: pertama gurindam, kedua legaran atau gerak/koreografi, ketiga pantun dan keempat dendang.

Sesuai dengan ciri khas orang Minang dalam berpantun, patatah-patitih, teka-teki dan berdendang lagu tradisi. Pertunjukan malam itu cukup memberikan ingatan dan humor yang segar setelah penonton meninggalkan kursi.

Indonesia Kita dan Maling Kondang memplesetkan sebuah legenda yang bertolak dari kesadaran anggapan lama. Jahitan adegan dan proses yang sebentar mampu mewujudkan pertunjukan yang masih membuat betah menonton karena pembaruan foklore yang segar dari perfektif apa yang paling wow saat ini, tiada lain: korupsi dan manipulasi.

Ratu Selvi Agnesia

http://selviagnesia.wordpress.com/2012/10/30/foklore-isu-korupsi-dan-penonton-kelas-menengah/
 
 
 



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Pertunjukan Teater Tubuh 'TANGGA' karya-sutradara Yusril Katil

Senin, 03 September 2012

Peraih Hibah Yayasan Kelola-Kategori Pentas Keliling di tiga tempat yaitu Taman Budaya Sumatera Barat (23 September 2012), Taman Ismail Marzuki-TIM (25 September 2012) dan STSI Bandung (27 September 2012).

Komunitas teater Hitam-Putih-Padangpanjang Sumatera Barat akan mementaskan naskah yang berjudul 'Tangga' di tiga tempat yaitu Taman Budaya Sumatera Barat (23 September 2012), Taman Ismail Marzuki-TIM (25 September 2012) dan STSI Bandung (27 September 2012). Pertunjukan ini terlaksana berkat dukungan Yayasan Kelola, Hivos, Dewan Kesenian Jakarta, dan STSI Bandung. Karya-sutadara Yusril ini pertama kali proses dilakukan pada bulan Oktober tahun 2006. Karya ini sudah pernah dipentaskan di Gedung Hoerijah Adam ISI Padangpanjang (21 Juli 2007) dan Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat (27 Juli 2007) sebagai salah satu peraih Hibah Seni Yayasan Kelola dengan kategori karya Inovatif. Karya ini juga menjadi salah satu wakil ISI Padangpanjang untuk tampil dalam kegiatan Festival Kesenian Indonesia (FKI V) ISI Denpasar (21-25 November 2007). Sekarang, Tangga’ karya-sutadara Yusril sedang menjalani tahap eksplorasi yang ke tiga,  dengan berbagai pengembangan bentuk dan pilihan estetika pertunjukan yang mencoba mempertegas dan menajamkan aspek bahasa tubuh aktor-aktris dalam mengekplorasi tiga hal penting yaitu (1) eksplorasi properti tangga dalam mencari kemungkinan-kemungkinan gerak-gerak akrobatik; (2) penajaman gerak silat Minangkabau yang menjadi dasar utama dalam pertunjukan; dan (3) mempertegas korelasi antara kekuatan bahasa (dialog) dengan bahasa tubuh aktor-aktris di atas panggung melalui gestur-gestur yang non-realistik. 

‘Tangga’ karya-sutradara Yusril terinspirasi dari puisi Iyut Fitra dengan judul yang sama yaitu Tangga. Puisi ini secara implisit merupakan kritik terhadap dualisme kekuasaan di Minangkabau. Dualisme kekuasaan di Minangkabau dibangun dalam dua kelarasan yaitu Koto Piliang yang dipelopori oleh Datuk Ketumanggungan dan Bodi Chaniago yang dipelopori oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang. Kelarasan Koto Piliang memiliki akar pada Berjenjang naik bertangga turun, suatu sistem pemerintahan yang menitik dari langit (top down) sebagai wujud sistem kekuasaan aristokrasi. Sementara, keselarasan Bodi Chaniago memiliki akar pada Duduk sama rendah tegak sama tinggi, suatu sistem pemerintahan demokrasi Minangkabau yang lahir dari bawah (bottom up). 

Persoalan dualisme kekuasaan di Minangkabau ini menjadi gagasan utama Yusril dalam menggarap karya teater dengan judul Tangga. Masing-masing aktor melakukan penafsiran terhadap gagasan sutradara melalui wujud bahasa tubuh di atas panggung. Kalimat-kalimat puisi kemudian dibagi dan dipenggal sesuai dengan kebutuhan peristiwa di atas panggung. Masing-masing aktor mengucapkan penggalan teks puisi yang dikorelasikan dengan penggunaan properti tangga. Wujud akting yang dilakukan oleh masing-masing pemain pada dasarnya mencoba menafsirkan gagasan sutradara melalui bahasa tubuh (gestur, ekspresi, vokal) yang cenderung multi-tafsir dan konotatif. Persoalan dualisme kekuasaan yang terdapat di Minangkabau, dapat menjadi persoalan yang dipahami sebagai kekuasaan yang bersifat lokal maupun universal.

Keistimewaan Pertunjukan Teater ‘Tangga’ karya-sutradara Yusril
Pertunjukan ‘Tangga’ diwujudkan melalui bahasa tubuh aktor secara spesifik memiliki keistimewaan mendasar yaitu; (1) bahasa tubuh aktor dalam pertunjukan ‘Tangga’ memberikan tafsir terhadap dualisme kekuasaan di Minangkabau; (2) penciptaan wujud visual pemanggungan melalui frame panggung (mise en scene) dalam pertunjukan dibangun secara vertikal dan horizontal. Aktor tidak hanya bermain dalam pola lantai horizontal, namun juga pengolahan ruang pertunjukan yang dibangun secara vertikal; (3) properti tangga, dieksplorasi sedemikian rupa menjadi repertoar estetis dan artistik yang dipadukan dengan elemen pendukung seperti pencahayaan panggung dan musik; (4) bertitik tolak pada gerak silat Minangkabau sebagai basis gerak dalam mewujudkan bahasa tubuh dalam mengungkap persoalan dualisme kekuasaan di Minangkabau; (5) berangkat dari puisi Iyut Fitra berjudul Tangga. Masing-masing aktor mengkomunikasikan puisi tersebut kepada penonton dalam bentuk yang naratif, proses ini dikombinasikan dengan bahasa non verbal yang diwakili oleh bahasa tubuh aktor.

Komunitas Seni HITAM-PUTIH

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

PANGGUNG PUBLIK SUMATERA (World Theatre Day 2012)-Menjamu Penonton di Ruang Publik

Pertumbuhan teater di Sumatera Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya dalama lima tahun terakhir tidak lepas dari sumbangsih kelompok maupun seniman yang berdomisili di Padangpanjang. Kelompok maupun seniman teater ini telah ikut mengharumkan nama perteateran nasional. Sayangnya untuk kota Padangpanjang sendiri keberadaan mereka belum terasa ‘akrab’ di masyarakat. Untuk itulah dalam satu diskusi antara sutradara teater dan seniman bersepakat kerja bersama mengenalkan teater baik secara bentuk, genre, style teater maupun senimannya kehadapan masyarakat (publik) di Padangpanjang.

‘BATU’ karya-sutradara Muhammad Hibban Mauludi Hasibuan
‘COMPLICATED’ karya Yusril-sutradara Kurniasih Zaitun
‘CERAMAH ILMIAH Dr. ANDA’ karya Wisran Hadi-sutradara Deri Shukaik. Aktris : Rakena Anjani Amak
‘SI TUPAI JANJANG’, sutradara Edi Satria Mak Itam
“ORANG-ORANG BAWAH TANAH” karya Wisran Hadi-sutradara Yusril
‘DONGENG MANDE DARI BUKIT TUI’ karya-sutradara Tya Setiawati
“MATAHARI DISEBUAH JALAN KECIL” karya Arifin C Noer-sutradara Fitri Noveri
‘KORUPTOR BUDIMAN’ karya NN. Aktor : Andi Jagger
Pertemuan sesama penggiat teater telah dilakukan di sekretariat Teater Sakata Padangpanjang, Jl. Soekarno – Hatta No. 62 Bukit Surungan, Padangpanjang pada tanggal, 29 Desember 2011 dan 4 Januari 2012 yang dihadiri oleh Komunitas Seni Hitam Putih, Komunitas Seni Kuflet, Teater Plong, Sembilan Ruang, Kelompok Pematang, Katatari, Batahimimetheatre dan Teater Sakata sebagai tuan rumah. Dalam pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan antara lain: setiap kelompok mengirimkan utusannya untuk duduk di kepanitiaan dan memiliki tanggung jawab untuk mensukseskkan kegiatan yang sedang dirancang.

Kegiatan yang dianggap cocok untuk melaksanakan iven ini adalah Hari Peringatan Teater Sedunia (WORLD THEATRE DAY) yang jatuh pada tanggal, 27 Maret 2012, yang kemudian diberi tema “Menjamu Penonton diruang Publik” dengan judul publikasi “Panggung Publik Sumatera”. Lokasi acara yang direncanakan adalah: tambang perkapuran Bukit Tui (Bancalaweh) dan Pasar Padangpanjang.

Kemudian pertunjukan yang akan ditampilkan adalah: Monolog, Mime, Teater Modern, Teater Tradisi, dan Teater Kontemporer. Selanjutnya acara dilanjutkan oleh sarasehan teater dengan mengundang pembicara: Halim HD (pengamat teater nasional) Solo dan Yusrizal KW (kritikus teater-wartawan budaya Padang Ekspres).


Harapannya dari kegiatan ini masyarakat Padangpanjang dapat mengenal lebih jauh pentas seni teater baik secara bentuk maupun senimannya sebagai ruang silaturahmi sehingga perkembangan teater di kota Padangpanjang menjadi basis kekuatan teater di Sumatera.

RUN DOWN WORLD THEATRE DAY 2012
PANGGUNG PUBLIK SUMATERA
“Menjamu Penonton di Ruang Publik”
Senin-Selasa/26-27 Maret 2012
Tempat: Pasar Padangpanjang, Gedung. M. Syafei dan Bukit Tui Padangpanjang-Sumatera Barat
SENIN, 26 MARET 2012
1. Teater Tutur dengan judul ‘MALIN KUNDANG’. Aktor: Lee Production
(Pukul 13.30 wib-14.00 wib di Pasar padangpanjang)
2. Teater Tutur dengan judul ‘TUPAI JANJANG’. Aktor : Fuji El Ikhsan
(Pukul 14.00 wib-15.00 wib di Pasar padangpanjang)
3. komunitas seni HITAM-PUTIH dengan pertunjukan berjudul “ORANG-ORANG BAWAH TANAH” karya Wisran Hadi-sutradara Yusril
(Pukul 13.00 wib-16.00 wib di Lapangan Voli KORAMIL Padangpanjang)
4. Teater Sakata dengan pertunjukan berjudul ‘DONGENG MANDE DARI BUKIT TUI’ karya-sutradara Tya Setiawati
(Pukul 16.30 wib-17.30 wib di Bukit Tui Padangpanjang)
5. Monolog dengan judul ‘COMPLICATED’ karya Yusril-sutradara Kurniasih Zaitun. Aktor :Edi Satria Mak Itam
(Pukul 16.30 wib-17.30 wib di Pasar Padangpanjang)
6. Naskah Monolog dengan judul ‘CERAMAH ILMIAH Dr. ANDA’ karya Wisran Hadi-sutradara Deri Shukaik. Aktris : Rakena Anjani Amak
(Pukul 20.00 wib-21.30 wib di Pasar Padangpanjang)
7. komunitas Sambilan Ruang dengan pertunjukan berjudul “MATAHARI DISEBUAH JALAN KECIL” karya Arifin C Noer-sutradara Fitri Noveri
(Pukul 20.00 wib-21.30 wib di Pasar Sayur Padangpanjang)
8. komunitas BATAHI MIME THEATRE dengan pertunjukan berjudul ‘BATU’ karya-sutradara Muhammad Hibban Mauludi Hasibuan
(Pukul 21.30 wib-22.30 wib di Pasar Sayur Padangpanjang)
SELASA, 27 MARET 2012
1. Arak-arakan
(Pukul 10.00 wib-10.30 wib, Bukit Surungan-Pasar Padangpanjang)
2. Pembukaan
(Pukul 10.30 wib-11.20 wib di Pasar Padangpanjang)
3. Baca Puisi, Happening Art
(Pukul 10.40 wib-12.00 wib di Pasar Padangpanjang)
4. Grup KUCIANG TUO dengan pertunjukan teater rakyat Minangkabau berjudul ‘SI TUPAI JANJANG’, sutradara Edi Satria Mak Itam
(Pukul 11.20 wib-12.00 wib di Pasar Padangpanjang)
5. Monolog dengan judul ‘KORUPTOR BUDIMAN’ karya NN. Aktor : Andi Jagger
(Pukul 14.00 wib-15.30 wib di Pasar Padangpanjang)
6. Pembukaan Sarasehan
Oleh Wakil Walikota Padangpanjang (Ir. H.Edwin, Sp)
(Pukul 16.00 wib-16.15 wib di Gedung M. Syafe’i Padangpanjang)
7. Sarasehan Teater bersama Halim HD (Kritikus Teater, Networker Kebudayaan) dan Yusrizal KW (Kritikus Teater, Sastrawan, Budayawan)
(Pukul 16.15 wib-18.00 wib di Gedung M. Syafe’i Padangpanjang)

PANITIA
PANGGUNG PUBLIK SUMATERA 2012
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Teater Tubuh "MENUNGGU" karya-sutradara Yusril

Senin, 23 Januari 2012


Jumat-Sabtu, 18-19 Februari 2000, pukul 20.00 WIB
Pentas Teater Hitam Putih, Padang Panjang
"Menunggu"
Karya / Sutradara : Yusril
(Kerja sama dgn CCF
Jakarta)
Di Komunitas Utan Kayu (Teater Utan Kayu), Jl. Utan Kayu No. 68H, Jakarta
Timur. Telp. 8573388 / Fax. 8573387

Menungg
u
Media massa senantiasa menyuguhkan darah dan air mata. Bahasa tak lagi dapat
dipahami. Namun kita tahu bahwa rakyat dibantai, dicekik, dan dhisap
darahnya. Manusia dirobotkan. Sistem komu
nikasi mengalami error. Media massa
tak lagi mampu memberitakan apa-apa, kecuali menjadi corong penguasa.

Yusril, dosen teater STSI Padang Panjang y
ang menjadi sutradara pementasan
ini, menyadari bahwa pada akhirnya teat
er adalah sebentuk refleksi dari
persoalan yang begitu jamak dan rumit yang ada di sekitar kita. Aktualisasi
di atas pentas yang menghadirkan pelba
gai simbol dan karakter, niscaya
berada dalam satu wacana dengan kebebasan manusiadalam arti yang
seluas-luasnya.

Properti tidak hanya berfungsi sebaga
i setting mati, namun sekaligus
menjelaskan diri mereka sendiri:
teror, sampah, juga tanah pekuburan. Bahasa
tubuh, adegan-adegan akrobatik, menjadikan
lakon Menunggu sebagai sistem
semiotik dalam ruang dan waktunya sendiri. Segala elemen estetik terangkum
dlm kesatuan wacana yang tak lagi hanya menc
ari, melainkan juga memberi dan
diberi makna.



Friday-Saturday, Februar
y 18 - 19, 2000
At 20.00pm Indonesian Western Time Zone
Hitam Putih Theatrical Performance, Padang Panjang
"Menunggu" (Lo
nging)
Written/Directed By: Yusril
(In cooporation with CC
F Jakarta)


Menunggu (Longing)
The mass media tends to exploit blood an
d tears. Language can no longer be
understood. However, we know that the people are being slaughtered,
strangled and sucked dried. De-humanization process. Communication system
error. The mass media can no longer rep
ort anything, except being the
speaker of the ruling party.

The director of this show, Yusril, a lecture
r for theatre in STSI, Padang
Panjang realizes that in the end a theatre is a form of reflection of the
many and complex problems around us. The
on-stage actualization presenting
many symbols and characters which will hopefully be at the same meaning as
human freedom in the broadest sense of the word.

Properties will not only function as static settings but will also reflect
themselves: terror, junk, and the cemetery ground. Body language and
acrobatic scenes turn the play into a semiotic system in its own time and
space. All of esthetics elements are included into one media which no longer
only seeks but also gives and receives meanings.


(Indah M.Rafli)
(http://groups.yahoo.com/group/lintaseni/message/91)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Parade Teater Naskah Wisran Hadi

Rabu, 14 Desember 2011


“Selamat Datang di Koto Tingga”

Padang Ekspres • Minggu, 13/11/2011 10:30 WIB • Gusriyono, Padang

…. Ada kunjungan. Datang sumbangan. Tidak berbunga. Kalungkanlah!
Kalungkan bunga-bunga….
…. Ada kunjungan. Turun bantuan. Lunak bunganya. Sajikan!
Sajikanlah adat budaya lama….
Selamat datang di Koto Tingga. Welcome….


Malin meneriakkan kata-kata tersebut beberapa kali melalui toa atau pengeras suara yang dipegangnya. Pemberitahuan tersebut sebagai isyarat agar penduduk Koto Tingga, yang tinggal beberapa orang itu, bersiap-bersiap menyambut tamu yang berkunjung dengan tarian sesuai budaya yang mereka pertahankan—dalam hal ini Minangkabau. Muncullah penduduk Koto Tingga yang berprofesi sebagai pedagang, yang menjual berbagai macam produk Koto Tingga termasuk adat dan budaya.

Kemudian, pemusik dengan gandang tamburnya menyajikan musik riang menyambut pengunjung, diiringi penari, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Mereka menarikan budaya lama itu di depan kuburan yang dianggap kuburan Bundo Kanduang. Kuburan itu didirikan di atas tanah yang disewa secara kredit kepada Panglimo.

Adalah 7 orang pelarian revolusi, Malin (Afrizal Harun), Ustad (Dedi Darmadi), Pakih (Anggi Hadi Kesuma), Katik (Syafriandi Afridil), Siti Cannon (Ayuning Saputri), Puti Xerox (Elsa Novri Asminda), dan Gadih (Winda Sesmita). Mereka menetap dan mempertahankan budaya lama di Koto Tingga, sebagai tameng persembunyian.

Kemudian, masing-masing menganggap diri pahlawan kebudayaan, yang mempertahankan adat dan pusaka lama itu, sembari menjualnya kepada para pengunjung. Termasuk memperkelam sejarah, melalui kuburan Bundo Kanduang dan ahli warisnya, seperti perebutan pemimpin upacara adat antara Puti Xerox dengan Siti Cannon.

Berbagai kejadian lengkap beserta konfliknya tersaji dengan renyah dan penuh olok-olok di lapangan terbuka yang dijadikan Koto Tingga itu. Sebagaimana naskah itu ditulis oleh Wisran Hadi—pun naskah-naskahnya yang lain—berisi kritikan terhadap adat dan budaya lama dengan gaya bercemooh atau olok-olok yang satir.

Menariknya, pementasan naskah Orang-Orang Bawah Tanah yang disutradarai Yusril dan diproduksi Komunitas Hitam Putih ini memilih pakaian adat Minangkabau sebagai kostum pemain. Sesuatu yang sudah sangat jarang ditemukan dalam pementasan teater atau sandiwara sekali pun di zaman sekarang.

Pilihan pakaian adat ini akan mengingatkan penonton pada pementasan sandiwara pada tahun-tahun 1980an atau sebelumnya. Untung saja, Yusril tidak menggunakan layar yang buka-tutup setiap pergantian adegan. Kalau iya, klop deh, jadulnya…. Serasa berada di tahun-tahun Yusril muda, barangkali. Hehe…


Diakui Yusril, pilihan kostum tersebut sebagai upaya memberikan tontonan alternatif bagi penonton terutama kalangan generasi muda. Bahkan, katanya, ketika dipentaskan di teater arena ISI Padangpanjang, beberapa penonton terharu, melihat masih ada yang memakai pakaian adat dalam pertunjukan teater.

Kemudian, pilihan lain yang diambil Yusril, mendekatkan pemain dan permainan ke penonton dengan pentas di lapangan terbuka. Seperti yang dilakukan pada Jumat (11/11) malam.

Di tanah lapang bekas reruntuhan Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Sumbar, Orang-Orang Bawah Tanah dipentaskan Yusril dengan penonton yang duduk lesehan di karpet. Sesekali, terjadi interaksi antara pemain dan penonton. Melalui cara ini, Yusril ingin menunjukkan teater bisa pentas dan hadir di mana saja. Tidak mesti di gedung pertunjukan. Ia bisa hadir di pasar, di mall, di lapangan bola, dan ruang-ruang publik lainnya.


Hanya saja, diakui Yusril, pementasan di lapangan terbuka malam itu sedikit luput dari perhitungan distorsi bunyi atau suara. Tidak seperti pementasan sebelumnya di ISI Padangpanjang yang berada dalam gedung teater arena, pementasan di lapangan terbuka Taman Budaya diwarnai dengan bunyi mesin kendaraan, seperti mobil dan sepeda motor hingga pesawat, suara-suara orang latihan menyanyi dan musik, dan sebagainya. Jadilah Koto Tingga, seperti kota yang riuh.

Termasuk juga, perhitungan bloking pemain, yang membuat letih karena jarak yang terlalu jauh. Lapangan terbuka yang lebih luas panggung teater arena telah menguras stamina pemain. Mungkin, resiko ini perlu juga dipertimbangkan di masa datang.

Naskah Orang-Orang Bawah Tanah ini dipilih Yusril, karena mengetahui proses penulisan naskah tersebut, mulai dari ide sampai observasi yang dilakukan oleh Wisran Hadi. Kemudian, sekitar 20 tahun lalu, Yusril juga membawa berkeliling pementasan naskah ini. Dengan konsep yang berbeda dari pementasan sekarang.

Ketika itu, naskah ini dimainkan dengan konsep realis di atas panggung gedung pertunjukan. Kuburan Bundo Kanduang dihadirkan berbentuk kuburan sebenarnya, tidak seperti pementasan kali ini, yang hanya disimbolkan dengan bentangan kain merah persegi panjang. Serta berbagai perbedaan lainnya.

Penulisan naskah ini, menurut Yusril, ketika pemerintah menggalakkan program Visit Indonesian Year 1990. Ketika itu, seperti juga sekarang, pemerintah kasak-kasuk ingin melestarikan kebudayaan daerah untuk dijual kepada para pengunjung atau wisatawan, sebagai penambah devisa bagi Negara.

Maka, muncullah orang-orang yang menganggap diri pahlawan pelestari kebudayaan dengan berbagai atributnya. Fenomena inilah yang bertahun-tahun silam dikritik oleh Wisran Hadi melalui naskah dramanya tersebut. Termasuk juga persoalan-persoalan sejarah dan mitos yang dipercayai masyarakat, yang sengaja digadang-gadang untuk mengembangkan pariwisata.

Begitulah, orang-orang mulai meninggalkan Koto Tingga satu persatu. Hingga menjadi negeri yang ditinggalkan dan tertinggal. Tidak ada lagi ucapan selamat datang atau welcome. (*)

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer