Parade Teater Naskah Wisran Hadi

Rabu, 14 Desember 2011


“Selamat Datang di Koto Tingga”

Padang Ekspres • Minggu, 13/11/2011 10:30 WIB • Gusriyono, Padang

…. Ada kunjungan. Datang sumbangan. Tidak berbunga. Kalungkanlah!
Kalungkan bunga-bunga….
…. Ada kunjungan. Turun bantuan. Lunak bunganya. Sajikan!
Sajikanlah adat budaya lama….
Selamat datang di Koto Tingga. Welcome….


Malin meneriakkan kata-kata tersebut beberapa kali melalui toa atau pengeras suara yang dipegangnya. Pemberitahuan tersebut sebagai isyarat agar penduduk Koto Tingga, yang tinggal beberapa orang itu, bersiap-bersiap menyambut tamu yang berkunjung dengan tarian sesuai budaya yang mereka pertahankan—dalam hal ini Minangkabau. Muncullah penduduk Koto Tingga yang berprofesi sebagai pedagang, yang menjual berbagai macam produk Koto Tingga termasuk adat dan budaya.

Kemudian, pemusik dengan gandang tamburnya menyajikan musik riang menyambut pengunjung, diiringi penari, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Mereka menarikan budaya lama itu di depan kuburan yang dianggap kuburan Bundo Kanduang. Kuburan itu didirikan di atas tanah yang disewa secara kredit kepada Panglimo.

Adalah 7 orang pelarian revolusi, Malin (Afrizal Harun), Ustad (Dedi Darmadi), Pakih (Anggi Hadi Kesuma), Katik (Syafriandi Afridil), Siti Cannon (Ayuning Saputri), Puti Xerox (Elsa Novri Asminda), dan Gadih (Winda Sesmita). Mereka menetap dan mempertahankan budaya lama di Koto Tingga, sebagai tameng persembunyian.

Kemudian, masing-masing menganggap diri pahlawan kebudayaan, yang mempertahankan adat dan pusaka lama itu, sembari menjualnya kepada para pengunjung. Termasuk memperkelam sejarah, melalui kuburan Bundo Kanduang dan ahli warisnya, seperti perebutan pemimpin upacara adat antara Puti Xerox dengan Siti Cannon.

Berbagai kejadian lengkap beserta konfliknya tersaji dengan renyah dan penuh olok-olok di lapangan terbuka yang dijadikan Koto Tingga itu. Sebagaimana naskah itu ditulis oleh Wisran Hadi—pun naskah-naskahnya yang lain—berisi kritikan terhadap adat dan budaya lama dengan gaya bercemooh atau olok-olok yang satir.

Menariknya, pementasan naskah Orang-Orang Bawah Tanah yang disutradarai Yusril dan diproduksi Komunitas Hitam Putih ini memilih pakaian adat Minangkabau sebagai kostum pemain. Sesuatu yang sudah sangat jarang ditemukan dalam pementasan teater atau sandiwara sekali pun di zaman sekarang.

Pilihan pakaian adat ini akan mengingatkan penonton pada pementasan sandiwara pada tahun-tahun 1980an atau sebelumnya. Untung saja, Yusril tidak menggunakan layar yang buka-tutup setiap pergantian adegan. Kalau iya, klop deh, jadulnya…. Serasa berada di tahun-tahun Yusril muda, barangkali. Hehe…


Diakui Yusril, pilihan kostum tersebut sebagai upaya memberikan tontonan alternatif bagi penonton terutama kalangan generasi muda. Bahkan, katanya, ketika dipentaskan di teater arena ISI Padangpanjang, beberapa penonton terharu, melihat masih ada yang memakai pakaian adat dalam pertunjukan teater.

Kemudian, pilihan lain yang diambil Yusril, mendekatkan pemain dan permainan ke penonton dengan pentas di lapangan terbuka. Seperti yang dilakukan pada Jumat (11/11) malam.

Di tanah lapang bekas reruntuhan Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Sumbar, Orang-Orang Bawah Tanah dipentaskan Yusril dengan penonton yang duduk lesehan di karpet. Sesekali, terjadi interaksi antara pemain dan penonton. Melalui cara ini, Yusril ingin menunjukkan teater bisa pentas dan hadir di mana saja. Tidak mesti di gedung pertunjukan. Ia bisa hadir di pasar, di mall, di lapangan bola, dan ruang-ruang publik lainnya.


Hanya saja, diakui Yusril, pementasan di lapangan terbuka malam itu sedikit luput dari perhitungan distorsi bunyi atau suara. Tidak seperti pementasan sebelumnya di ISI Padangpanjang yang berada dalam gedung teater arena, pementasan di lapangan terbuka Taman Budaya diwarnai dengan bunyi mesin kendaraan, seperti mobil dan sepeda motor hingga pesawat, suara-suara orang latihan menyanyi dan musik, dan sebagainya. Jadilah Koto Tingga, seperti kota yang riuh.

Termasuk juga, perhitungan bloking pemain, yang membuat letih karena jarak yang terlalu jauh. Lapangan terbuka yang lebih luas panggung teater arena telah menguras stamina pemain. Mungkin, resiko ini perlu juga dipertimbangkan di masa datang.

Naskah Orang-Orang Bawah Tanah ini dipilih Yusril, karena mengetahui proses penulisan naskah tersebut, mulai dari ide sampai observasi yang dilakukan oleh Wisran Hadi. Kemudian, sekitar 20 tahun lalu, Yusril juga membawa berkeliling pementasan naskah ini. Dengan konsep yang berbeda dari pementasan sekarang.

Ketika itu, naskah ini dimainkan dengan konsep realis di atas panggung gedung pertunjukan. Kuburan Bundo Kanduang dihadirkan berbentuk kuburan sebenarnya, tidak seperti pementasan kali ini, yang hanya disimbolkan dengan bentangan kain merah persegi panjang. Serta berbagai perbedaan lainnya.

Penulisan naskah ini, menurut Yusril, ketika pemerintah menggalakkan program Visit Indonesian Year 1990. Ketika itu, seperti juga sekarang, pemerintah kasak-kasuk ingin melestarikan kebudayaan daerah untuk dijual kepada para pengunjung atau wisatawan, sebagai penambah devisa bagi Negara.

Maka, muncullah orang-orang yang menganggap diri pahlawan pelestari kebudayaan dengan berbagai atributnya. Fenomena inilah yang bertahun-tahun silam dikritik oleh Wisran Hadi melalui naskah dramanya tersebut. Termasuk juga persoalan-persoalan sejarah dan mitos yang dipercayai masyarakat, yang sengaja digadang-gadang untuk mengembangkan pariwisata.

Begitulah, orang-orang mulai meninggalkan Koto Tingga satu persatu. Hingga menjadi negeri yang ditinggalkan dan tertinggal. Tidak ada lagi ucapan selamat datang atau welcome. (*)

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Parade Teater Naskah Wisran Hadi 12-16 November

Ditutup OBT, Dibuka Matrilini

Padang Ekspres • Sabtu, 12/11/2011 15:12 WIB • S Metron M & Gusriyono

Memperingati 35 Tahun Bumi dan In Memoriam Wisran Hadi (berbentuk parade teater) terus berlanjut. Untuk 35 Tahun Bumi ditutup dengan pementasan Orang-orang Bawah Tanah (OBT) kemarin malam. Sedangkan untuk parade teater, Matrilini akan jadi pembuka malam ini di Teater Utama Taman Budaya Sumbar.


OBT berkisah tentang tujuh orang yang melarikan diri akibat dikejar-kejar ke Kototingga. Mereka menyamar jadi pemandu turis-turis yang datang melihat kuburan Bundo Kanduang. Padahal, di bawah kuburan itu tersimpan dokumen-dokumen penting partai terlarang.

Yusril sebagai sutradara pementasan membawa 36 personel untuk mementaskannya. Dosen ISI Padangpanjang yang terkenal dengan eksperimentasi tubuh ini keluar dari konvensi yang dianutnya. “Kali ini saya taat naskah,” katanya saat ditemui di ruang bulek Chairil Anwar Taman Budaya kemarin.

Selain menghormati naskah, Yusril ingin kembali bernostalgia.
Sebab, OBT termasuk naskah yang sering dibawakannya. Saat kuliah di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Unand, Yusril dua kali mementaskannya.

Yusril memilih bekas gedung teater tertutup sebagai lokasi pementasan. OBT memang naskah yang fleksibel. Bisa dimainkan di dalam dan luar gedung. Di bekas reruntuhan itu, Yusril menset panggung dengan bentuk arena. Artinya, penonton melingkari pertunjukan. Ini tentu ciri khas randai.


Pemain juga fleksibel. Karena dekat dengan penonton, saat tidak berperan aktor berbaur dengan penonton. Ada yang minum atau merokok. “Teman-teman (pemain, red) akan berhasil memainkannya. Mereka enjoy,” katanya sebelum pertunjukan.

Sebelum OBT, dari pagi digelar seminar pendidikan karakter. Temanya cukup menarik; Sanggar Teater, Satu Metode Pendidikan Karakter. Pembicaranya Burhasman Boer dari Dinas Pariwisata Sumbar, Riri Amalas Yulita (Aktor Bumi) dan Dhanny Moer (alumnus IKJ).

Di sesi pagi, dua nama pertama menjadi pembicara. Riri melihat kepemimpinan (leadership) Wisran Hadi saat proses pertunjukan teater. Pak Wis (begitu Riri memanggil) mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap diri pemain. “Uniknya, cara itu dilakukan tanpa disadari Anak Bumi (aktor, red),” ujarnya.

Meski menjadi role model, Pak Wis tidak menjadikan kepemimpinannya dalam bentuk turunan. Dia menjalankan atau mengatur setiap anak Bumi mau memberi koreksi kepada temannya dengan “tubo dosis tinggi”. Tubo inilah, perlahan membentuk sikap hidup dari anak Bumi yang kemudian menjadikan mereka “sesuatu” di kemudian hari.

Pembentukan karakter di Bumi, dilakukan dengan bahasa yang sederhana sampai yang rumit. Pemain pun dengan senang hati “menelannya”. Namun, Pak Wis juga sadar, pembentukan karakter tidak akan selasai sehari dua. Pak Wis ikut dan menikmati proses itu sampai karakter itu mengkristal dengan sendirinya.

Ada empat karakter kuat yang selalu ditanamkan Pak Wis, tulis Riri. Pertama, kecerdasan. Lalu kejujuran, ketangguhan dan terakhir, kepedulian.
Diskusi yang dimoderatori Zirmayanto (Anak Bumi), belangsung menarik. Guru-guru yang hadir mulai mempertanyakan praksis dari sanggar teater. “Tanya ke kepala Taman Budaya,” ujar Burhasman.

Di sesi kedua, hal teknis ini yang dibahas. Dhanny dengan lancar menjelaskan proses teater yang ada. Anak Solok itu menceritakan bagaimana proses sebuah teater. Dalam sesi ini, Dhanny langsung mempraktikkan beberapa bagian dasar teater. Peserta diajak untuk berinteraksi. Seperti latihan vokal. Peserta pun diajak melafazkan aiueo dengan beragam gaya, bahkan sampai bernyanyi.

Tampil Habis-habisan
Sementara itu, Teater Sakata yang tampil di malam pertama berjanji akan tampil habis-habisan. Sabtu pagi mereka sudah sampai di Taman Budaya untuk penyesuaian pentas. Teater Utama akan menjadi panggung parade teater sampai 16 November mendatang, Enrico Alamo sebagai manajer panggung mengaku membawa 25 personel untuk pementasan kali ini.

Naskah Matrilini, seperti kebanyakan drama Pak Wis, bercerita tentang benturan adat. Apakah yang mesti diikuti lebih dulu, agama atau adat? Kehidupan Minangkabau yang berada di antara adat dan agama, tentu tidak selamanya selaras.

Percikan benturan ini yang digarap oleh Pak Wis . Dialog-dialognya menggelitik dan merangsang pikiran. Apabila dibawakan dengan pas, maka syaraf tawa akan terpantik.

Nama Sakata yang mulai bergaung di pentas Indonesia merasa tertantang dengan naskah Matrilini yang mereka bawakan. Sewaktu pertemuan grup Oktober lalu, Riko mengaku dua kali menukar naskah untuk pementasan ini. Meski akhirnya bentrok dengan Teater Kamus, yang juga membawakan naskah yang sama, Riko yakin pertunjukannya akan beda. Pertunjukan ini akan dilaksanakan pada pukul 20.00, malam ini. (***)

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

JiFFest Traveling 2010

JiFFest Traveling adalah program pemutaran film-film lokal dan internasional, fiksi maupun dokumenter, yang pernah diputar di JiFFest ke berbagai kota di Indonesia selain Jakarta. Di tahun 2010 ini, JiFFest Traveling mengunjungi para pecinta film di kota Medan (7-9 Mei), Padang (14-16 Mei), Malang (21-22 Mei), Solo (28-30 Mei), Banjarmasin (4-6 Juni) dan Makassar (11-13 Juni).

Ada 16 program di pemutaran kali ini, termasuk di antaranya pemutaran film-film dokumenter seri Think, Act, Change dari The Body Shop, seri Tales from Jakarta, Bulan Sabit di Tengah Laut karya Yuli Andari, dan Letters To The President karya Petr Lom.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

screenDocs! Regular Padang November 2009



screenDocs! Regular
Senin, 30 November 2009
14.00 WIB
Kafe Apache, Jl. A. Yani Kampung Cina, Bukittinggi

Pemutaran Film dan Diskusi tentang Anak

Wow! Vanessa - The Big Jump
George Bussek | Jerman | 2004 | 15 menit
Vanessa melompat di depan mobil yang melaju kencang dan meloncat dari atas punggung kuda. Dia berkelahi dengan teman-temannya, namun orang tua Vanessa malah senang dan bangga akan dirinya. Vanessa yang berusia 11 tahun, ingin menjadi stunt girl! Sebentar lagi ia harus terjun dari ketinggian 6 meter. Vanessa telah berlatih keras, namun ia membutuhkan keberanian besar untuk melakukan hal ini.

Tom W.
Anna Wieckowska | Polandia | 2005 | 28 menit
Tom berusia 12 tahun, tinggal di Polandia. Ia merasa bertanggung jawab terhadap keluarganya. Mereka semua tinggal di bangunan tua tanpa saluran air dan pemanas ruangan. Tom merawat keluarganya seperti layaknya orang dewasa. Dia menelusuri kota kecil tempat tinggalnya untuk mencari pekerjaan. Uang yang didapat Tom digunakan untuk keperluan seluruh keluarga.

Joki Kecil
Yuli Andari, Anton Susilo | Indonesia| 2005 | 20 menit
Pacuan kuda adalah tradisi rakyat yang populer di Sumbawa. Para pengendara kuda adalah anak-anak yang nasibnya tidak sebagus para pemilik kuda. Joki kecil harus menaiki kuda liar tanpa peralatan keamanan yang memadai dengan imbalan yang tidak seberapa. Orang-orang yang berperan dalam pacuan kuda ini, ikut andil dalam arena kemenangan, kebanggaan, perjudian dan kepedihan.
Film Dokumenter Terbaik & Film Favorit Pemirsa, Metro TV Eagle Award, Indonesia 2005
Film Dokumenter Pendek Terbaik, Festival Film Pendek Konfiden, Indonesia 2006
Film Dokumenter Pendek Terbaik, Jakarta Slingshort Festival, Indonesia 2006
Film Dokumenter Pendek Terbaik, Asian Competition Section, Tehran Int'l Short Film Festival, Iran 2006
Film Dokumenter Terbaik, Festival Epona, French 2007


Di Atas Rel Mati
Nur Fitria Nafiz, Welldy Handoko | Indonesia | 2006 | 17 menit
Wahyudi, Ropik, Ade dan Wanto menuturkan keseharian mereka sebagai "anak lori". Anak-anak ini bertahan hidup dengan menyediakan jasa transportasi lori dorong, yang bisa mengangkut penumpang dan barang yang kerap dimanfaatkan oleh warga kampung Dao Atas, Ancol, Jakarta. Kehidupan sebagai anak lori membuat mereka beranggapan bahwa sekolah tidak penting, dan bersikap skeptis dalam memandang masa depan mereka.
Film dengan Editing Terbaik, Metro TV Eagle Awards, Indonesia 2006
Film Favorit Juri, Festival Film Dokumenter, Indonesia 2006
Film Dokumenter Terbaik, Festival Film Konfiden, Indonesia 2007


Narasumber:
Edy Suisno (pengamat sosial dan pemerhati film)

Pemutaran terbuka - tidak dipungut biaya

Kontak:
Tintun
T. +62-812-6749614

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

DUA PEMENTASAN TEATER YANG ANTIKLIMAKS


35 TAHUN BUMI DAN IN MEMORIAM WISRAN HADI

dua kelompok teater yang menasbihkan dirinya sangat dekat dengan sosok almar­hum teaterawan Wisran Hadi, menyuguhkan pementasan teater dalam helat 35 Tahun Bumi. Masing-masing mengu­sung bentuk garapan yang berbeda.

Gaung Eskpose Padang mengangkat naskah—yang tak jelas maksudnya, mengapa bukan karya Wisran Hadi—Gubernur Nyentrik dipentaskan prosenium. Kelompok seni Hitam Putih membawakan karya Wisran Hadi, Orang-orang Bawah Tanah yang ditampilkan di luar pentas atau di lapangan terbuka.

Kedua orang yang me­nyutradarai pertunjukan teater itu: Armeynd Sufhasril dan Yusril, bukan anak kemarin sore dalam jagat teater Su­matera Barat. Keduanya—kendati beda usia— sudah bertungkus lumus bersama Bumi Teater, tapi, sayang sekali, kedua garapan yang disuguhkan seperti men­jauh dari apa yang pernah dihasilkan Bumi Teater selama ini. Dua pementasan yang menjadi antiklimaks. Menurun dari dari berbabagai aspek.

Tiga puluh lima tahun silam, sekitar Januari 1976, saat proses latihan teater berjudul Gaung dengan naskah dan sutradara Wisran Hadi, sema­cam manifes dinyatakan untuk penanda kehadiran Bumi Te­ater.

“...Teater kami adalah teater yang berpijak dan tumbuh di bumi. Tidak ada alasan sedikit pun buat kami mencari bumi yang lain untuk kami bertolak. Pertanggungan jawab dari corak dan gaya penyampaian serta sikap, adalah pada Allah SWT. Karena kami percaya bahwa bumi tempat kami berpijak adalah bumi yang dititipkan Allah SWT pada kami.”

Manifes ini bukan sekadar kalimat basa-basi pelengkap kehadiran Bumi Teater. Mani­fes ini merupakan gejolak keprihatinan atas gelombang ‘kematian’ kesenian Sumatera Barat, khususnya teater pada saat itu. Di mana Sumatera Barat tidak tampak dalam peta perteateran di Indonesia. Di mana ruang, seperti Taman Ismail Marzuki (TIM), ruang kebanggaan kesenian yang di bangun di pusat negeri ini (Jakarta) seolah tak terjangkau oleh penggiat teater Sumatera Barat. Tak terjangkau, atau bisa jadi pada saat itu, tak ada kemampuan untuk men­jang­kau.

Sejak manifes itu, Bumi Teater, Sastra, dan Seni Rupa dengan ujung tombaknya Wis­ran Hadi berusaha masuk dalam ruang-ruang yang belum terjangkau. Wisran Hadi, secara personal atau atas nama Bumi telah menjadi catatan penting dalam konstelasi perteateran Indonesia.

Setidaknya, sudah sekitar 50 pementasan teater yang dihadirkan, dari pementasan pertama (Gaung, 1976) sampai pementasan paling akhir (Wa­yang Padang, 2006). Puluhan naskah karya Wisran Hadi pun menjadi tolok ukur, men­jadi per­bincangan ber­bagai pihak, atas muatan-mua­tan yang dikan­dungnya. Naskah yang sebagian be­sar men­jadi jawara di ajang-ajang per­lom­ba­an naskah bergengsi di Indo­nesia.

Tapi sejak me­ning­galnya Wis­ran Hadi be­-­be­rapa bulan silam, sejak Bumi Teater kali terakhir mementaskan pertun­jukannya, apakah manifes atau spirit teater moderen yang dihadirkan Wisran Hadi dise­rap oleh para teaterawan atau kelompok teater di Sumatera Barat sebagai suatu kebaruan yang patut terus dieksplorasi?

Dan pembukaan peringatan 35 Tahun Bumi dan In Me­moriam Wisran Hadi di Taman Budaya Sumatera Barat adalah pembuktian. Dari tanggal 9-11 November, tiga kegiatan digelar, yakni pementasan teater oleh grup Gaung Ekspose berjudul Gubernur Nyentrik (karya Agustan T Syam) sutradara Armeynd Sufhasril, Temu Anak Bumi Teater dengan pembacaan obituari Wisran Hadi oleh Darman Moenir, serta pementasan teater berjudul Orang-orang Bawah Tanah (karya Wisran Hadi) oleh kelompok seni Hitam Putih dengan sutradara Yusril. Tiga tajuk acara yang bisa jadi adalah penggambaran dari spirit 35 tahun Bumi, peng­gambaran sejauh mana manifes yang dipatrikan puluhan tahun silam itu diterima dan dieksp­lorasi terus menerus oleh para teaterawan di Sumatera Barat.

Tiga tajuk acara yang diisi oleh orang-orang yang pernah berproses panjang di Bumi Teater atau berde­katan secara emo­sional dengan Wisran Hadi. Tiga tajuk acara mem­buka sembilan per­tun­jukan lain, akan beruturut-turut dalam sepekan, pertunjukan yang akan membuka celah-celah wacana dalam naskah yang pernah dibuat Wisran Hadi.

Gaung Berusaha “Nyentrik”

Kelompok Teater Gaung Ekspose, mempertunjukkan “Gubernur Nyentrik” di Teater Utama Sumatera Barat (9/11) malam. Dengan naskah yang ditulis Agustan T Syam terse­but Armeynd Sufhasril berusaha menghadirkan (ulang) per­soalan ‘korupsi’ yang sudah sering dibahas dalam berita televisi. Beberapa pemain di dalam pertunjukan tersebut, sebagian besar sudah pemain lama, sudah pernah ikut ber­proses di Bumi Teater. Akan tetapi pertunjukan malam itu terasa tidak memberikan kon­tribusi penting dalam penanda angka ’35 tahun’.

Secara menyeluruh pementasan tersebut berusaha memparodikan kegiatan harian seorang gubernur dengan istri, ajudan, dan orang-orang yang berdekatan dengan lingka­rannya. Parodi yang hampir sama pembawaannya dengan cara grup “Teater Keliling” Rudolf Puspa mementaskan. Entah mana yang menyalin?

Sepanjang permainan ter­kadang tampak totalitas proses berteater dihancurkan secara tiba-tiba, entah kenapa, meski di beberapa sisi ada ‘aktor’, ada ‘properti’ ada keinginan untuk membangun totalitas tersebut.

“Apakah ini pertunjukan teater atau show musik dengan tema lagu-lagu Iwan Fals dan Slank sebagai penguat bahwa malam ini ada gugatan atas pemerintahan korup?”

Penonton yang terbiasa menonton pertunjukan teater ‘pintar’ tentu akan mem­perta­nyakan hal tersebut. Tapi tentu mereka yang senang dengan kelucuan banal seperti tayangan di televisi akan bertepuk tangan dan girang.

Bisa jadi kegagalan ini disebabkan Gaung Ekspose memainkan naskah yang tidak pas dengan karakter mereka yang selama ini mereka tunjuk­kan? Pertanyaan yang akan dijawab bersama. Pertanyaan yang pastinya akan dikem­balikan pada spirit angka ‘35’ tersebut—meski Gaung Eks­pose bukan Bumi Teater, tapi sebagian pemainnya pernah berproses dengan Wisran Hadi, angka ’35’ ter­s­ebut me­rupakan beban moral yang mesti di­tanggung.

Kembali pada Pijakan

Istilah ‘kembali pada pija­kan’ akan jadi perwakilan bagi pertunjukan ko­mu­nitas seni Hitam Putih dari Pa­dang Pan­jang yang me­men­taskan Orang-orang Ba­wah Tanah, Jumat (11/11) malam. Yusril, selaku su­tradara pemen­tasan tersebut berusaha masuk pada celah yang diberi dalam naskah Wsi­ran Hadi tersebut. Meski pada akhirnya garapan Yus­ril tersebut akan ke­luar, dari konteks, dan gugatan-gugatan filosofis yang ditututkan Wisran Hadi dalam naskah.

Agak lain memang, meski bukan baru, pemen­tasan Orang-orang Bawah Tanah dikem­balikan lagi pada sesuatu yang ‘asal’ dalam pertunjukan tradi­sional Minangkabau. Pertun­jukan ini oleh sutradaranya dibawa pada situasi yang lebih nyata, dimana interaksi pemain lebih utuh dengan penon­tonnya, seperti ‘randai’ yang bukan randai.

Orang-orang Bawah Tanah seperti dua dunia yang di­bangun atas wacana besar Minangkabau, wacana yang dirasuki berbagai kepen­tingan pribadi atau kelompok, termasuk politik dan cinta. Pertunjukan ini seolah menjadi tantangan bagi pertunjukan teater yang lazim diper­ton­tonkan dalam ruangan, tanta­ngan bagi sutradara, aktor, juru lampu, dan juga penonton.

Tempat pertunjukan Orang-orang Bawah Tanah dihadirkan pada tanah yang sedikit lapang antara mess dan galeri lukisan Taman Budaya Sumatera Barat, yang dulunya merupakan Ge­dung Teater Tertutup. Tempat ini pun diubah menjadi (na­gari) ‘Koto Tingga’, tempat para pelarian politik yang ingin mempertahankan kebudayaan lama tapi pada akhirnya malah menghancurkan kebudayaan itu.

Setumpak tanah keter­wakilan dari pandam paku­buran di bagian belakang panggung pertunjukan. Trap yang membelah ruang seakan garis imajiner, batas antara dunia ‘atas’ dan dunia ‘bawah’. Dua menara bambu dengan orang-orangan sawah dan ben­dera hitam berkibar di atasnya, serta para pemain yang me­makain baju-baju adat seolah memberi ruang bagi penonton untuk menafsir banyak hal.

Orang-orang Ba­wah Tanah semacam sandiwara gelak-tawa kebudayaan antara tokoh Malin, Pakih, Ustad, Puti Serong, dan Siti Canon. San­diwara yang mengikutsertakan pemain dari awal sampai akhir pertunjukan.

Pandam pekuburan Bundo Kanduang menjadi kekuatan yang dibangun, dihancurkan, dan dibangun lagi dalam pe­mentasan ini.

Bagaimana tidak, kuburan Bundo Kanduang dimani­festasikan sebagai kebohongan publik yang dibagun oleh orang-orang yang secara kasar mata mempertahankan kebu­dayaan, tapi di lain sisi mereka ingin menjual kebudayaan tersebut.

Pada pementasan ini Yusril mencoba melakukan proses menafsir lagi estetika lama sembari mencoba mencari bentuk baru dalam melakukan eksplorasi pada ‘tanah’ dimana teater itu di mainkan. Orang-orang Bawah Tanah dijadikan tontonan teater alternatif. “Pementasan ini digarap agar penonton sadar ini sebuah permainan yang juga bukan sekadar permainan,” kata Yusril.

Isu tentang pariwisata dan budaya yang dihadirkan dalam pementasan, sebagaimana para aktor selalu terlihat ingin mendapatkan materi dari kebongan publik yang di­bentuknya, sesuatu yang kini intim dengan kita.

“Budaya untuk kepentingan ekonomi, sementara kebu­dayaan tidak bisa dilihat begitu. Jadi ada sebagian orang yang memperalat kebudayaan untuk kepentingan ekonomi. Saya tidak menyangkal kehadiran Bundo Kanduang dalam pe­men­tasan, tapi yang saya tolak kuburan Bundo Kanduang itu,” tafsir Yusril terhadap perteng­karan antara dua tokoh yang bernama Siti Canon dan Puti Serong yang mengaku ketu­runan sah Bundo Kanduang dan pewaris kuburannya.

Orang-orang Bawah Tanah bisa jadi berhasil memper­tunjukkan naskah Wisran Hadi tersebut melalui interaksi berlanjut dari awal sampai akhir dengan penonton. Ratu­san penonton malam itu pun sibuk dalam wacana yang dibangun, sesekali ‘kecewa’ dengan pembohongan publik, dan berbahagia atas pem­bongakaran isu dalam pe­mentasan.

Penonton malam itu jadi aktor sekaligus, jadi pembuat wacana sekaligus. Meski dalam tafsir yang tidak utuh, pe­mentasan ini jadi perwakilan dari spirit 35 tahun Bumi Teater, spirit 35 tahun ma­nifes semangat berteater yang pernah dibunyikan itu

Tantangan baru, pen­carian dan penemuan jawa­ban, seperti kata Darman Moenir dalam obituari tentang Wisran Hadi, Kamis malam (10/11) mung­kin usaha yang harus disiasati berlanjut. “Membaca naskah, me­nonton pertunjukan Wis­ran Hadi.... kritik-kritik sosial disampaikan dalam cemooh, gurau, plesetan. Wisran Hadi benar-benar sadar akan kekua­tan kata. Dan itu disiasati dengan bacaan, dari permainan tradisi, dari kehidupan masya­rakat menengah kebawah, dari perilaku pe­mang­ku adat dan pejabat...” sebut Darman.

Dan ini tentu sesuatu yang berharga bagi konstelasi pertea­teran di Sumatera Barat. Tidak hanya bagi Gaung Ekspose dengan pertunjukan Gubernur Nyentrik yang bisa dibilang ‘gagal’ dalam menunjukkan totalitasnya, atau komunitas Hitam Putih dalam pementasan Orang-orang Bawah Tanah yang berhasil menyiasati celah bagi penontonnya untuk ikut hibuk dalam sandiawara yang ditulis Wisran Hadi itu.

Spirit 35 tahun dan se­mangat manifes Wisran Hadi bukan hanya milik anak Bumi, bukan cuma milik orang-orang yang pernah berproses di sana, tapi telah jadi milik perteateran Sumatera Barat, Indonesia. Jeda waktu yang panjang memang untuk membuat kebaruan bagi sebagian kelompok teater di Sumatera Barat yang kini layak­nya ‘katak dalam tempu­rung’ dan tidak menghargai proses sebagai bagian dari pencarian berteater itu sendiri. n


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

MERAYAKAN SEBATAS KITA TANPA KATA


Koran Haluan, Minggu 20 November 2011

PEMENTASAN TEATER KOMUNITAS SENI HITAM PUTIH

Pada hari terakhir A Tribute to Wisran Hadi, Rabu (15/11) sorenya di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat tampil Komunitas Seni Hitam Putih Padang Panjang memanggungkan naskah Sebatas Kita dengan sutradara Kurniasih Zaitun. Pada malamnya, di tempat yang sama tampil Teater Noktah Padang membawa Wanita Terarkhir sutradara Syuhendri.

Pementasan Sebatas Kita ini merupakan tafsir bebas sutradara Kurniasih Zaitun atas naskah Wisran Hadi berjudul Of the Record.

Galibnya sebuah tafsir terhadap teks naskah—konsekuensi yang paling dirasakan penonton adalah kesan dari “teks” dan simbolisasi di atas panggung. Sutradara punya otoritas terhadap tafsir teks. Pang­gung sebagai wilayah yang akan diisi dengan tafsir itu. Kemunculan simbol, tokoh yang tak memerlukan dialog, properti yang sangat fung­sional, tubuh sebagai rep­resentasi kon­flik, busana sebagai identitas kultural, dan sebagainya, sepanjang 70 menit, Komunitas Seni Hitam Putih memberi makna dan roh pada pentas, yang selama 3 hari diisi dengan hal-hal yang monoton. Sutradara merambah pada wi­layah teks budaya Minang, se­bagaimana datuk adalah “ke­kua­saan” tertinggi dalam pe­sukuan di Minangkabau, meleleh dan cair ketika pada awalnya ia tanpa pakaian, lalu merampok pakaian kebesaran dan atribut datuk, dan menge­nakannya. Tapi pakaian datuk itu menyiksanya sehingga ia lepas lagi. Pesan ini membuka kemungkinan multitafsir bagi penonton yang paham tentang simbolisasi adat Minang.

Awalnya, Kurniasih Zaitun membuka panggung dengan me­ngahadirkan kursi kayu dan meja rotan di sudut kiri (depan). Sepetak ruang ganti, berisi tiga kamar kecil, dengan penutup kain putih, di bagian kanan (belakang) panggung. Ini mengingatkan saya kamar ganti di mal-mal. Melalui properti kursi, meja, dan ruang ganti inilah, para aktor melakukan aksi panggung yang diolah tanpa dialog ini.

Penanda dipapar bervariasi di atas panggung. Gerak dan simbol-simbol yang diciptakan atau tercipta sendiri, komunikatif. Aktor-aktor tak memerankan dirinya saja. Ia menjadi multifungsi dan memberi efek pada aktor-aktor lainnya. Gerak dan ketelanjangannya memberi dan menguatkan simbol lainya.

Seorang aktor hadir melalui gerakan dramatik di atas kursi kayu dengan lembaran-lembaran koran yang dibuka dengan cepat sebagai tanda kebosanannya. Ia muntah setiap halaman koran yang dibuka. Dalam wacana media massa, si aktor seakan menerima efek efektif (berhubungan dengan emosi, pe­rasaan, dan attitude [sikap]). Efek yang dalam pandangan Mc. Luhan, seorang pakar ‘efek komunikasi massa’, di mana seseorang (aktor-red) cenderung merima informasi dari apa yang dilaporkan media massa, efek dari sajian adegan kekerasan yang menimbulkan semacam kemuakan dan mengang­gap dunia ini sekan me­ngerikan.

Efek media massa ini terlihat sebentar pada pementasan. Berlanjut pada permainan beberapa orang aktor di bagian kamar ganti. Di sini terlihat penggambaran kritik atas kebebasan seksual yang diumbar-umbar. Berahi yang tak jelas juntrungannya dihadirkan melalui aksi dari dua orang aktor laki-laki yang (sepertinya) sedang melakukan hubungan intim di dalam sebuah ruangan, yang bisa jadi ruang ganti, atau kamar mandi.

Penggambaran wacana (homo) seksual tersebut terlihat hanya sebatas kaki aktor yang melakukan gerakan dari belakang kain tabir ruangan. Tapi, bisa jadi, penonton telah bisa menafirkan melalui kaki aktor yang tampak dan gerakan-gerakan dari balik belakang kain tabir.

Kehadiran ‘pakaian’ merupakan bagian yang paling inti dari pe­mentasan ini. Pakaian sebagai titik mula dari wacana ‘pencitraan’. Pada salah satu bagian muncul seorang perempuan yang membawa berbagai pakaian memalui sebuah gerobak, lantas pakaian tersebut digantung di tiga ruangan kamar ganti.

Pakaian tersebut terdiri dari pakaian kebesaran datuk, baju haji, seragam polisi, seragam tentara, pakaian wisuda (toga), dan pakaian prakter dokter. Pada bagian ini pementasan hadir melalui tari, di mana salah seorang aktor keluar dari dalam gerobak, lantas bergerak ke arah ruang ganti pakaian.

Saat si penari membuka tabir kain ruang ganti, terlihat para aktor dengan pakaian-pakaian tadi. Hadirlah seorang datuk, seorang pak haji, seorang polisi, seorang tentara, seorang dokter, dan seorang sarjana. Tapi orang-orang di balik pakaian tersebut hadir seperti sebuah manekin, bisa jadi robot, yang hanya kaku dan tidak melalukan gerakan.

Pertunjukan yang diperkaya dengan koreagrafi Ali Sukri ini memberi dampak yang kuat pada jalannya pementasan. Naskah Wisran Hadi yang selalu dipentaskan dengan sangat nyinyir oleh kelompok-kelompok teater sebelumnya, di tangan Tintun—begitu ia akrab dipanggil—dihantamnya. Tanpa kata sekalipun, apa yang ingin dicapai naskah Wisra Hadi, tercapai.

Sekelompok penari me­nang­galkan pakaiannya sampai yang tersisa hanya pakaian dalamnya. Saat bersamaan, muncul tokoh datuk dengan segenap atribut kebesarannya. Penari pun terkesima dan dengan gerakan yang sangat komunikatif, ia mempreteli pakaian sang datuk tanpa perlawanan. Datuk itu pun diganti pakaiannya dengan baju dan kopiah putih seorang haji.

Lantas si penari mulai me­lakukan gerakan-gerakan tarian yang seolah-oelah menggugat ke­kuasaan datuk yang seolah hadir hanya melalui pakaian besarnya. Gugatan-gugatan ini ditonjolkan si penari seketika ia memakai pakaian ke­besaran datuk. Tafsir datuk seakan hanya seorang yang dihadiahi pakaian, lantas punya kuasa atas keputusan terhadap kemenakannya, punya kuasa atas hak putus tanah ulayat, atau pemberian gelar pada seseorang. Dan sang penari terlihat gerah ketika memakai pakaian datuk tersebut, ia tanggalkan satu persatu, ia buang di atas panggung.Hal yang sama juga dilakukan dengan simbol kuasa lainnya, seperti polisi dan tentara, haji, serta pakaian wisuda sarjana.

Kaum Nudism

Konsep pakaian sebagai penanda dan identitas dihadirkan melalui pemberontakan atas ‘pakaian’ sebagai harkat, martabat, status sosial. Penolakan-penolakan ini meng­gambarkan kesepakatan kaum nudism. Kaum yang mengganggap pakaian telah mencipatakan ko­munikasi personal seseorang men­jadi terhambat, kaum yang menganggap pakaian telah meninggalkan pe­maknaan hakiki dari kebudayaan manusia itu sendiri, kaum yang menganggap ’ketelanjangan’ kembali ke hal yang harfiah dari manusia. Dalam pandangan nudism, ketika melepaskan baju, manusia men­ciptakan pembenaran sendiri yang mengaitkan seksualitas, pronografi.

Minimalis Kata

Wacana-wacana di atas panggung selama pertunjukan memang hadir dengan dialog yang minim. Meski pada suatu bagian ada suara ter­dengar mengucapkan huruf vokal “a-i-u-e-o” dan “kabau”. Musik pun mengiringi lajunya pertunjukan dan menghadirkan degradasi pada suasana. Musik seolah me­nghi­dupkan setiap tafsir yang dibangung di atas panggung.

Kurniasih Zaitun mengatakan, pementasan tersebut merupakan tafsirnya utuhnya terhadap karya Wisran Hadi. “Naskah berjudul Of the Record, dalam tanda kurung Sebatas Kita. Dan saya membaliknya menjadi Sebatas Kita tapi dalam kurung Of the Record,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa memang dalam teks naskah Wisran Hadi tersebut memang hanya ada peristiwa tematik tanpa dialog. “Di dalam naskah ada beberapa tematik tentang kebudayaan, kekuasaan, hukum, tradisi, keadilan. Dan dengan naskah yang tanpa dialog ini, saya leluasa dengan konsep teater tubuh yang saya dalami sejauh ini,” tambahnya.

Ia pun mengungkapkan, dirinya secara penuh bersetia pada tematik yang dihadirkan dalam naskah Wisran Hadi. “Akan tetapi dalam konsep pemanggungan, suasananya jauh dari naskah tersebut, dengan penghadiran pakaian yang berbeda,” jelas Tintun lagi.

Dan dalam anggapannya, tafsir ‘ke-kini-an’ terhadap naskah Wisran Hadi melalui pementasan “Sebatas Kita” menandakan naskah tersebut relevan dengan wacana kekinian yang hadir dalam persoalan masya­rakat. “Dalam naskah tidak di­sebutkan jelas tentang per­seling­kuhan, homo seksual, dan lainnya. Tapi hal tersebut ada, dan saya mengkaji ulangnya,” kata Tintun.

Tubuh yang Menguat

Satu gerak dalam panggung teater merepresentasikan sekian makna. Gerak dan laku diperhitungkan efektifitasnya. Sutradara Sebatas Kita tampaknya memperhitungkan ini.

Jika diurut ke belakang, selama ini, Komunitas Seni Hitam Putih yang didirikan pada 1996 selalu ketat dengan konsep eksploratif dan semiotif visual siapa pun sutra­daranya. Jika mau diban­dingkan, garapan terakhir Yusril Katil, pendiri Komunitas Seni Hitam Putih ini, yaitu Orang-orang Bawah Tanah, sepertinya itu bukan identitas kelompok ini sesungguhnya.

Sore itu panggung Sebatas Kita memang memberi pembedaan tegas terhadap tujuh pertunjukan dalam rangka Parade Naskah Wisran Hadi yang telah digelar sejak 12 Novem­ber.

Jika tujuh kelompok sebelumnya sore dan malam panggung dipenuhi dengan kata-kata, gerak-gerak yang tak bermakna, miskin simbol, dan sangat melelahkan mendengar dialog aktor yang belepotan dengan intonasi yang datar dan merata.

Sore itu, semua terbalik. Tak ada lagi kita mendengar orang-orang marah di atas panggung. Tubuh mela­hirkan dialog. Gerak memunculkan simbol dan komunikasi yang nyaris sangat “nyambung” dengan penon­ton. Mengintegrasikan koreografi memang memperkuat semiotif visualnya. Kendati, beberapa gerakan dibuat berlama-lama, padahal pesan yang disampaikan telah dipahami. Tapi ini adalah salah satu perjalanan teater Sumatera Barat, yang beda dengan yang lain: jauh dari ke­cengengan.n



Laporan: Esha Tegar Putra, Nasrul Azwar

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer